SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi China Ajukan 193 Ribu Satelit ke ITU, Terancam Dominasi Orbit Rendah Bumi

China Ajukan 193 Ribu Satelit ke ITU, Terancam Dominasi Orbit Rendah Bumi

China ajukan izin 193.428 satelit ke PBB untuk mendominasi orbit rendah bumi, menantang dominasi Starlink milik SpaceX dalam persaingan ruang angkasa global. (Shutterstock)

Suara Kalbar –Dunia antariksa kembali diguncang oleh langkah agresif China. Pada akhir Desember 2025 lalu, sebuah badan baru bernama Institute of Radio Spectrum Utilisation and Technological Innovation mengajukan aplikasi untuk dua konstelasi satelit raksasa, CTC-1 dan CTC-2. Total satelit yang diajukan mencapai 193.428 unit, sebuah angka yang akan membuat konstelasi Starlink milik SpaceX, yang hanya menargetkan 49.000 satelit, terlihat kecil.

Langkah ini diajukan kepada International Telecommunications Union (ITU), badan PBB yang mengatur alokasi spektrum dan orbit di luar angkasa.

“Jika disetujui, China secara efektif akan menguasai sebagian besar wilayah orbit rendah bumi (LEO), yang berpotensi menghalangi pesaing lain untuk masuk ke area tersebut karena risiko tabrakan dan gangguan sinyal,” tulis Dailymail, Sabtu (17/1/2026).

Meskipun otoritas China bungkam mengenai tujuan spesifiknya, para ahli keamanan mulai waspada. Universitas Aeronautika Nanjing mengklaim bahwa satelit-satelit ini akan fokus pada keamanan ruang elektromagnetik ketinggian rendah dan sistem pertahanan terintegrasi. Hal ini mengindikasikan bahwa konstelasi tersebut mungkin memiliki fungsi serupa dengan sistem Starshield milik militer AS, yang digunakan untuk pelacakan dan komunikasi aman dalam medan perang.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh perilaku satelit China yang dianggap semakin “aneh” di orbit geostasioner (GEO). Kepala Sersan Mayor Ron Lerch dari Angkatan Luar Angkasa AS mencatat adanya satelit yang bergerak sangat sering melintasi sabuk GEO.

“Mereka meluncur atau bergerak sangat sering, yang merupakan perilaku sangat tidak lazim bagi satelit yang dimaksudkan untuk komunikasi satelit,” ujar Lerch. Ia menambahkan bahwa AS melihat risiko besar dari pertumbuhan yang tidak terkelola ini.

Presiden Xi Jinping sendiri telah lama menegaskan bahwa luar angkasa adalah aset strategis nasional yang harus dilindungi. Sejak 2010, jumlah satelit China telah melonjak dari hanya 40 unit menjadi sekitar 1.000 unit saat ini. Namun, banyak analis menduga bahwa pengajuan 200.000 satelit ini hanyalah strategi “pencaplokan lahan” secara digital untuk mengamankan slot orbit bagi masa depan.

Secara teknis, rencana ini dianggap hampir mustahil untuk dicapai dalam waktu dekat. Untuk memenuhi target dalam jendela waktu tujuh tahun yang ditetapkan ITU, China harus meluncurkan 500 satelit setiap minggu. Meskipun China mencetak rekor dengan 92 peluncuran roket pada tahun 2025, kapasitas produksi dan peluncuran mereka saat ini masih jauh dari kebutuhan proyek raksasa tersebut.

Victoria Samson dari Secure World Foundation berpendapat bahwa China mungkin hanya mencoba mengamankan ruang untuk digunakan nanti. Fenomena “aplikasi boneka” ini bukan hal baru di mana Rwanda pernah mengajukan 327.000 satelit meski tidak memiliki kapasitas untuk meluncurkannya.

Bahkan di dalam negeri China pun, suara skeptis mulai muncul. Yang Feng, manajer produsen satelit komersial Spacety, memperingatkan, “Memimpin dalam hal pengajuan aplikasi tidak berarti unggul dalam eksekusi akhir.”

Ironisnya, langkah China ini muncul hanya beberapa minggu setelah mereka mengecam SpaceX karena dianggap memonopoli orbit dan menciptakan masalah keselamatan. Sekarang, dengan pengajuan CTC-1 dan CTC-2, China justru melakukan langkah yang jauh lebih masif. Persaingan antara China dan AS kini tidak lagi hanya soal siapa yang pertama sampai ke Bulan, tetapi siapa yang mampu mendominasi “properti” berharga di orbit Bumi.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan