Cerita Rifki Asudais, Mahasiswa Disabilitas Raih Predikat Mahasiswa Berprestasi dengan IPK 3,90
Pontianak (Suara Kalbar ) – Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Muhamad Rifki Asudais untuk menuntaskan pendidikan tinggi. Mahasiswa penyandang disabilitas asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat itu berhasil menyelesaikan studi Strata Satu (S1) Program Studi Manajemen di Universitas OSO Pontianak dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Tak hanya lulus tepat waktu, Rifki juga meraih predikat Mahasiswa Berprestasi tingkat fakultas hingga universitas. Ia menjadi salah satu dari 46 mahasiswa yang diwisuda pada Wisuda Sarjana Universitas OSO Pontianak Angkatan Periode II yang digelar di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (22/1/2026).
Usai mengikuti prosesi wisuda, Rifki tak mampu menyembunyikan rasa haru atas perjuangan panjang yang telah ia lalui.
“Perasaannya campur aduk, senang, terharu, dan bahagia. Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah penuh perjuangan. Hari ini benar-benar momen yang emosional,” ujarnya.
Mahasiswa berusia 23 tahun itu menempuh pendidikan sarjana selama 4 tahun 2 bulan 3 hari. Sejak awal perkuliahan, Rifki merantau ke Pontianak dengan mengandalkan beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang mencakup biaya UKT hingga bantuan biaya hidup bulanan.
Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tukang, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga semakin berat ketika ayahnya harus berhenti bekerja setelah menjalani lima kali operasi dan dilarang melakukan pekerjaan berat.
Dalam situasi tersebut, Rifki memilih untuk mandiri dengan bekerja sambil kuliah dan aktif mengikuti berbagai perlombaan.
“Sejak itu saya benar-benar berusaha mandiri. Ikut lomba, freelance video editing, apa pun yang bisa saya lakukan secara positif,” katanya.
Di tengah perjuangannya, Rifki mengaku kerap menghadapi stigma dan cemoohan akibat keterbatasan fisik yang dimilikinya. Namun, hal tersebut justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu berprestasi dan berkembang.
“Masih ada pandangan bahwa disabilitas itu tidak bisa apa-apa. Saya ingin membuktikan bahwa stigma itu salah, dengan proses panjang dari sekolah hingga kuliah,” ungkapnya.
Saat ini, Rifki aktif sebagai fasilitator Program Bakti Komdigi yang bekerja sama dengan DNIKS Pusat, khususnya dalam pelatihan digital bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah. Ia bahkan telah mengikuti kegiatan hingga ke Kalimantan Selatan dan dikontrak untuk program berskala nasional selama satu tahun ke depan.
Ke depan, Rifki memiliki mimpi sederhana namun penuh makna, yakni menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
“Di usia 25 tahun, saya ingin menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, daerah, dan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda yang tengah berjuang dengan keterbatasan ekonomi maupun tekanan mental agar tidak mudah menyerah.
“Masalah finansial itu berat, tapi jangan takut melakukan hal positif. Asah kemampuan, ikut lomba, magang, atau freelance. Pikiran negatif itu manusiawi, tapi kita harus yakin bisa melawannya,” tutup Rifki.
Penulis: Meriyanti
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






