Ahli Gizi UI: Pasien Diabetes dan Hipertensi Tetap Dianjurkan Olahraga Saat Puasa
Suara Kalbar – Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK(K) mengatakan penderita diabetes atau hipertensi tetap disarankan untuk berolahraga minimal setengah jam sebelum berbuka puasa agar tetap bugar.
“Jangan lupa juga olahraga, misalnya kalau dilakukan sesudah sahur, dikhawatirkan (seseorang) menjadi haus, jadi, lakukan olahraga kira-kira setengah atau satu jam sebelum berbuka,” kata Inge kepada ANTARA, Senin.
Inge mengatakan olahraga selama bulan puasa disarankan tidak dilakukan setelah sahur karena akan menyebabkan dehidrasi dan rasa lemas.
Khusus pasien diabetes, dia mengingatkan untuk tidak langsung mengonsumsi makanan yang terlalu manis misalnya kolak atau buah yang terlalu manis seperti jambu, melon atau madu saat berbuka. Jika ingin makan, Inge mengatakan sebaiknya makan malam tiga jam sebelum tidur.
“Memindahkan protein yang ada pada makan siang, sebelum tidur bisa mengonsumsi susu untuk diabetes,” kata Inge.
Susu untuk diabetes bisa menggantikan protein yang mungkin kurang selama berpuasa. Protein sangat penting bagi penderita diabetes untuk menjaga massa otot, mendukung penyembuhan luka, meningkatkan rasa kenyang, membantu manajemen berat badan, serta menstabilkan kadar gula darah dengan meningkatkan sekresi insulin dan memperlambat penyerapan glukosa.
Porsi protein yang cukup untuk penderita diabetes berkisar antara 10-15 persen dari porsi makan harian.
Salah satu kekhawatiran pada saat bulan puasa adalah berat badan naik karena makan berlebihan, misalnya karena banyak acara berbuka puasa.
Inge mengingatkan penderita diabetes bisa makan sedikit-sedikit agar tidak lemas setelah berpuasa dan memilih makanan yang bergizi dan menghindari makanan terlalu manis.
“Pemilihannya itu harus benar-benar supaya kadar gula darah meningkat normal, tidak menjadi meningkat berlebihan,” kata dia.
Sumber: ANTARA






