SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle 62 Kasus Influenza H3N2 Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Ahli Minta Tetap Waspada

62 Kasus Influenza H3N2 Subclade K Terdeteksi di Indonesia, Ahli Minta Tetap Waspada

Superflu tetap harus diwaspadai terutama kelompok rentan seperti orang lanjut usia. (Freepik.com/@Lifestylememory)

Jakarta  (Suara Kalbar)- Hingga awal Januari 2026, sebanyak 62 kasus influenza A H3N2 Subclade K atau yang dikenal dengan sebutan superflu dilaporkan telah terdeteksi di Indonesia. Sebaran kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Meskipun varian ini tidak tergolong ganas dan masih dekat dengan virus flu musiman, ahli kesehatan mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi kelompok yang rentan.

Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof dr Tri Wibawa menilai istilah superflu bukanlah nomenklatur ilmiah. Sejauh ini belum ada tanda influenza A H3N2 Subclade K memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan virus influenza lain atau seperti Covid-19. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga.

“Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti pada orang lanjut usia,” kata dr Tri dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (11/1/2026).

Tri menambahkan, secara genetik virus ini memang berbeda dari virus influenza sebelumnya, tetapi masih memiliki kekerabatan dekat dengan virus flu musiman

“Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, virus influenza bersifat dinamis karena materi genetiknya berupa Ribonucleic Acid (Rna). Mutasi kecil yang terjadi secara terus-menerus dapat memunculkan varian baru yang masih berkerabat dekat. Apabila perubahan genetik berlangsung cepat dan menghasilkan varian yang berbeda secara signifikan, hal ini bisa berdampak pada sistem kekebalan tubuh manusia, termasuk peningkatan penularan.

“Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri.

Untuk menekan risiko penularan, Tri mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan dasar yaitu dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mulai dari menutup mulut saat batuk atau bersin, memakai masker saat mengalami gejala flu, mencuci tangan secara rutin, cukup istirahat, memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan baik serta vaksinasi bagi kelompok rentan.

“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” pungkasnya.

Sumber: ANTARA

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan