SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Rafflesia Ditemukan Kembali, Ilmuwan Soroti Warisan Kolonial

Rafflesia Ditemukan Kembali, Ilmuwan Soroti Warisan Kolonial

Penemuan Rafflesia Hasseltii setelah 13 tahun. (Instagram.com/infarm.id)

Suara Kalbar-  Bunga langka Rafflesia hasseltii ditemukan kembali pada bulan lalu di kawasan hutan Sumatera Barat. Penemuan ini menggemparkan para ilmuwan.

Namun, penemuan kembali bunga raksasa di hutan Sumatera Barat tersebut justru memicu kampanye di kalangan peneliti untuk mengubah nama kolonial salah satu tanaman paling terkenal di dunia itu.

Penemuan tersebut mendorong para peneliti dan aktivis untuk mempertanyakan penggunaan nama Rafflesia yang dikaitkan dengan Thomas Stamford Raffles, tokoh kolonial Inggris yang kerap dikritik atas praktik kekerasan dan pemaksaan selama kekuasaan Inggris di Asia Tenggara.

Rafflesia dikenal sebagai salah satu bunga terbesar di dunia dan sering dijuluki corpse flower karena baunya yang menyengat.

Tanaman ini pertama kali tercatat dalam literatur ilmiah Barat pada 1818, ketika seorang pemandu lokal membawa naturalis Inggris Joseph Arnold menemukan bunga tersebut di wilayah yang kini dikenal sebagai Bengkulu, di pesisir barat Sumatera.

Nama genus Rafflesia kemudian diberikan untuk menghormati Raffles yang saat itu menjabat sebagai letnan gubernur wilayah tersebut, sementara spesies Rafflesia arnoldii dinamai untuk mengenang Arnold.

Sementara itu, Rafflesia hasseltii yang baru ditemukan kembali di Sumatera Barat mengabadikan nama ahli botani Belanda Arend Ludolf van Hasselt. Saat ini, nama Rafflesia telah melekat kuat dalam dunia sains global dan mencakup sekitar 42 spesies yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Namun di Indonesia, bunga tersebut dikenal dengan berbagai nama lokal, bergantung pada daerah, bahasa, dan jenisnya. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Joko Witono, mengatakan timnya bersama ahli biologi dari Universitas Oxford mengamati langsung mekarnya Rafflesia hasseltii yang kemudian viral di media sosial.

Di Sumatera Barat, bunga tersebut dikenal dengan nama cendawan muka rimau, kata Joko.

Sejarawan lingkungan Luthfi Adam menjelaskan, penamaan spesies pada masa kolonial umumnya dilakukan untuk menghormati penyandang dana ekspedisi penemuan.

“Penamaan itu memang membantu identifikasi ilmiah, tetapi sekaligus menghilangkan konteks dan pengetahuan lokal tentang spesies tersebut,” ujar Luthfi seperti dilansir dari SCMP.

Seruan untuk meninjau ulang warisan kolonial dalam penamaan ilmiah juga disuarakan profesor ekologi dan biogeografi dari Auckland University of Technology, Lennard Gillman. Ia menilai komunitas ilmiah perlu mempertimbangkan kembali penggunaan nama tokoh-tokoh kolonial yang memiliki rekam jejak kekerasan.

“Pada dasarnya, seperti tanaman yang dinamai atas namanya, dia berbau busuk,” kata Gillman.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan