SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kuliner Luxone Hadirkan Konsep Kafe Jamu Kekinian di Pontianak, Bidik Generasi Muda

Luxone Hadirkan Konsep Kafe Jamu Kekinian di Pontianak, Bidik Generasi Muda

Pemilik Luxone, Evi Susanti saat diwawancarai oleh media. [SUARAKALBAR.CO.ID/Meriyanti]

Pontianak (Suara Kalbar) – Di tengah pesatnya pertumbuhan warung kopi dan coffee shop di Pontianak, sebuah konsep tempat nongkrong berbeda hadir dengan mengusung minuman tradisional berbasis herbal.

Kafe jamu bernama Luxone menawarkan alternatif gaya hidup sehat bagi masyarakat, khususnya anak muda.

Luxone menjadi kafe jamu pertama di Kalimantan Barat yang mengemas racikan jamu dalam tampilan modern dan Instagramable.

Berlokasi di Jalan Sepakat 2, tepat di depan Mini Soccer Rusun Universitas Tanjungpura, kafe ini menyasar mahasiswa dan generasi muda yang ingin menikmati jamu tanpa kesan kuno.

Beragam pilihan jamu tersedia di Luxone, mulai dari varian tradisional hingga kreasi kekinian.

Menu modern yang ditawarkan di antaranya kunyit asam matchalatte, milkshake beras kencur, tamarin ginger cooler, blue milk ginger, rosela lemonade glow, hingga kunyit asam frappe.

Sementara jamu klasik seperti beras kencur, kunyit asam, temulawak, dan wedang jahe tetap menjadi favorit.

Selain tampil menarik, setiap racikan jamu juga memiliki manfaat kesehatan. Rosela Lemonade Glow, misalnya, dipercaya baik untuk kesehatan kulit, sementara Kunyit Asam Matchalatte mengandung antioksidan. Ada pula menu Feminine Love yang diformulasikan untuk membantu detoksifikasi rahim.

Pemilik Luxone, Evi Susanti, mengatakan ide mendirikan kafe jamu bermula dari pengalamannya saat pandemi COVID-19. Kala itu, ia kesulitan mendapatkan obat maupun suplemen kesehatan, sehingga mulai meracik jamu sendiri.

“Waktu pandemi sangat sulit mendapatkan obat atau suplemen. Akhirnya saya meracik jamu dan mengirimkannya ke teman-teman. Respons mereka sangat baik dan dari situ muncul inspirasi untuk membuka kafe jamu,” ujar Evi, Sabtu (6/12/2025).

Evi meyakini bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dari perawatan luar, tetapi juga harus dimulai dari dalam tubuh. Prinsip tersebut menjadi dasar lahirnya Luxone.

“Cantik dan sehat itu tidak hanya dari luar. Dari dalam juga harus dirawat. Itulah filosofi Luxone, mencintai diri dari luar dan dalam,” katanya.

Dalam menjalankan usahanya, Evi turut memberdayakan petani lokal Kalimantan Barat sebagai pemasok bahan baku jamu. Ia juga mengaku sempat belajar meracik jamu ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta.

“Saya memang tertarik dengan kesehatan dan kecantikan. Jadi saya belajar sampai benar-benar bisa, lalu meracik jamu yang sesuai dengan selera anak muda,” jelasnya.

Pemilihan lokasi di kawasan kampus dilakukan untuk mendekatkan jamu kepada generasi muda serta menghilangkan anggapan bahwa jamu hanya diminum oleh orang tua.

“Anak muda perlu tahu bahwa Indonesia sangat kaya dengan minuman tradisional yang menyehatkan,” ujarnya.

Harga jamu di Luxone dibanderol mulai dari Rp18 ribu hingga Rp28 ribu. Selain dinikmati di tempat, Luxone juga menyediakan layanan pesan bawa pulang.

Selama dua bulan beroperasi, Luxone mulai ramai dikunjungi mahasiswa yang memanfaatkan kafe tersebut sebagai tempat nongkrong sekaligus mengerjakan tugas.

“Responsnya sangat positif. Banyak pelanggan yang datang kembali bahkan setiap hari. Mahasiswa sering mengerjakan tugas sambil minum jamu, jadi tetap sehat,” kata Evi.

Ia berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan dukungan untuk mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya gaya hidup sehat melalui konsumsi jamu.

“Mudah-mudahan ke depan ada lebih banyak dukungan dan semakin banyak kafe jamu seperti ini yang hadir di Kalimantan Barat,” pungkasnya.

Penulis: Meriyanti

Komentar
Bagikan:

Iklan