Kapal Kargo China Diduga Angkut 60 Peluncur Rudal
Suara Kalbar – Foto-foto satelit dan dokumentasi terbaru yang dirilis pada 25 Desember 2025 mengungkap strategi militer terbaru Tiongkok. Sebuah kapal kargo komersial milik China tertangkap kamera membawa serangkaian kontainer yang ternyata berisi sekitar 60 peluncur rudal, lengkap dengan sistem radar dan pertahanan jarak dekat.
Kapal yang berlabuh di sebuah pelabuhan di Tiongkok tersebut tampak membawa tiga kontainer besar yang menampung total 60 unit Vertical Launch System (VLS). Kapasitas ini sangat fantastis, setara dengan dua pertiga kekuatan sistem VLS pada kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Amerika Serikat.
Di dekat bagian haluan, terlihat dua kontainer yang menampung sistem pertahanan jarak dekat (CIWS) Tipe 1130. Senjata ini dilengkapi meriam putar 11 laras kaliber 30mm yang mampu menyemburkan 10.000 peluru per menit. Sistem ini dirancang khusus untuk mencegat rudal jelajah anti-kapal, drone, hingga perahu bunuh diri.
Selain itu, kapal ini dilengkapi sepasang peluncur umpan tipe 726 dan radar phased-array berukuran besar di dekat menara komando buritan. Tyler Rogoway, editor situs militer AS The War Zone, menilai konfigurasi ini menunjukkan fungsi kapal yang lebih dari sekadar pengangkut logistik.
“Tabung peluncur di kapal tersebut dapat menampung sejumlah senjata lain. Sistem seperti itu dapat berguna dalam membangun jaringan pertahanan udara di area operasional tertentu,” kata Rogoway.
Penggunaan kontainer komersial sebagai wadah peluncur rudal merupakan metode kamuflase yang sangat efektif. Hal ini mempersulit musuh dalam membedakan antara kapal dagang biasa dengan platform militer mematikan. Tiongkok sebelumnya juga dilaporkan telah memodifikasi kapal feri untuk kebutuhan pendaratan amfibi.
Meski Rusia, Iran, dan AS juga memiliki teknologi serupa, seperti peluncur rudal Tomahawk dan SM-6 dalam kontainer, skala demonstrasi Tiongkok kali ini dianggap paling mengesankan.
Namun, para ahli militer Amerika Serikat menyoroti beberapa kendala teknis pada desain tersebut. Penempatan radar yang terlalu dekat dengan menara komando di buritan dinilai dapat mengurangi efektivitas deteksi. Selain itu, integrasi sistem informasi tempur pada kapal kargo masih menjadi tanda tanya besar.
“Transformasi kapal kargo menjadi depot rudal di laut oleh China memang menarik, tetapi pertanyaannya adalah apakah sistem ini layak. Belum jelas apakah ini prototipe atau simulasi,” ujar seorang pakar militer AS.
Hingga saat ini, pihak otoritas Tiongkok belum memberikan pernyataan resmi terkait fungsi kapal kargo bersenjata tersebut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






