China Peringatkan Potensi ‘Gelembung’ Robot Humanoid, Industri Global Terancam Efek Domino
Suara Kalbar – Setelah maraknya peringatan mengenai potensi artificial intelligence (AI) bubble atau gelembung AI yang disebabkan oleh investasi berlebihan pada teknologi AI, kini muncul kekhawatiran serupa di sektor lain yang sedang berkembang pesat, yakni robot humanoid.
Dikutip dari Digitaltrends, Sabtu (29/11/2025), dalam satu tahun terakhir, perusahaan teknologi berlomba-lomba mengembangkan robot humanoid untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan industri hingga penggunaan rumah tangga. Namun, produksi massal hingga kini belum terwujud karena para insinyur masih menghadapi tantangan teknis besar, seperti merancang tangan yang sangat lincah dan sistem kendali tubuh yang stabil agar robot mampu melakukan tugas nyata, seperti mengangkat beban di pabrik hingga merapikan rumah.
Pekan ini, juru bicara Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC) yang merupakan lembaga perencana ekonomi tertinggi di China, Li Chao, memberikan peringatan mengenai munculnya potensi gelembung di industri robot humanoid seiring semakin banyaknya perusahaan yang terjun ke sektor tersebut.
“Industri frontier sejak lama menghadapi tantangan menyeimbangkan kecepatan pertumbuhan dengan risiko gelembung, dan kini masalah itu juga dihadapi sektor robot humanoid,” ujar Li kepada Bloomberg.
Di China saja, tercatat lebih dari 150 perusahaan sedang mengembangkan robot humanoid. Li memperingatkan, banjirnya produk-produk dengan desain “sangat mirip” dapat memenuhi pasar dan menghambat inovasi karena peluang riset dan pengembangan menjadi semakin terbatas.
2026 Diprediksi Jadi Tahun Penentu
Citigroup memproyeksikan, tahun depan akan terjadi pertumbuhan “eksponensial” dalam produksi robot humanoid di China. Namun, pertumbuhan cepat ini dinilai dapat memperbesar risiko terjadinya gelembung industri.
Apabila gelembung robot humanoid di China benar-benar pecah, dampaknya bisa meluas secara global. Pasalnya, perusahaan China saat ini tengah mendorong produksi robot humanoid dalam jumlah besar sambil berupaya menekan biaya agar produk bisa dipasarkan secara luas.
Beberapa skenario yang mungkin terjadi antara lain:
- Peluncuran robot humanoid murah bisa tertunda.
Lambatnya ekspansi perusahaan China dapat memperlambat distribusi robot humanoid berbiaya rendah di seluruh dunia. - Pendanaan perusahaan teknologi akan tertekan.
Banyak perusahaan kecil berpotensi kehilangan sumber dana hingga akhirnya harus bergabung dengan perusahaan besar atau gulung tikar. - Kompetisi global berubah.
Perusahaan AS mungkin mendapatkan keuntungan jangka pendek karena kompetisi dari China melemah, serta akses ke komponen dan talenta China yang lebih murah. Namun, kondisi ini diprediksi hanya sementara, hingga industri China melakukan konsolidasi. - Iklim investasi lebih berhati-hati.
Investor cenderung menahan diri sehingga pendanaan baru di sektor robot humanoid bisa turun drastis.Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






