SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Catatan Akhir Tahun: Tata Kota dan Gaforaya

Catatan Akhir Tahun: Tata Kota dan Gaforaya

Tugu Gaforaya/Tangkapan Layar

Oleh: Ambaryani

TAHUN 2025 tinggal menghitung jam. Sebentar lagi, 2026 akan mengetuk pintu. Tiga ratus enam puluh hari berlalu tanpa terasa. Banyak peristiwa telah dilewati, banyak pula yang tersimpan rapi sebagai catatan, kenangan, dan harapan.

Ketika kabar tentang pembangunan tugu di Bundaran Gaia, Transmart, Kubu Raya mulai terdengar, sesungguhnya saya tak langsung teringat pada sebuah tulisan lama, sebuah andai-andai yang pernah saya tuangkan pada 2018 silam. Namun sejak pekerja mulai mempermak bundaran itu, dan bentuk-bentuk mulai terbaca, ingatan itu perlahan menyelinap kembali.

Hari demi hari, linimasa media sosial dipenuhi kabar perkembangan bundaran Gaia. Foto, video, dan komentar berseliweran. Di sanalah potongan ingatan itu utuh kembali. Sebuah tulisan tertanggal 8 Januari 2018, yang saya beri judul Tata Kota. Tulisan sederhana, berangkat dari khayalan—sekadar berandai-andai.

Tujuh tahun lalu, saya menulis kira-kira begini:
Andai saja, dari ujung bandara—tepatnya simpang tiga bandara—hingga Bundaran A. Yani, Tol 2 Ambawang, dan Transmart ditata cantik, tentu akan luar biasa.

Bayangkan, seseorang dari luar Kalimantan Barat tiba. Begitu keluar dari pesawat, ia disambut bandara yang megah. Melangkah keluar dari kompleks bandara, pemandangan indah mengiringi perjalanan—berlanjut hingga Bundaran Transmart, lalu ke Bundaran Untan yang mencuri perhatian. Sebuah kesan pertama yang kuat dan membekas.

Pasti itu akan menjadi daya tarik tersendiri. Melengkapi kepingan puzzle keindahan kota yang selama ini perlahan dibangun dan dirawat. Namun kala itu, semua masih sebatas angan. Sebuah harapan yang dititipkan pada waktu. Semoga suatu hari nanti, tulis saya kala itu, andai-andai ini menjadi nyata.

Tentu saja, mewujudkan mimpi kota tak sesederhana mantra “bim salabim” atau “abra kadabra”. Tidak instan. Tidak sekali jadi. Ini pekerjaan besar. Ini pekerjaan rumah yang tak cukup dibahas dalam satu semester, tak cukup dijelaskan oleh satu wali kelas dengan selembar rumus. Ia menuntut ide, visi, aksi dan kesabaran. Tentu taka da yang mustahil.

Kini, di penghujung 2025, tulisan yang dulu lahir dari khayalan itu tak lagi sepenuhnya tinggal angan. Tata Kota yang saya tulis tujuh tahun lalu, menemukan wujudnya dalam Tugu Gaforaya yang malam ini akan diresmikan. Sebuah penanda bahwa kota ini bergerak, melaju, dan menyala.

Melaju dan menyala, Kubu Raya.
Alhamdulillah.

*Penulis adalah Pemerhati Layanan Publik

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan