SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional BRICS Kencang Tinggalkan Dolar AS, Emas Jadi Senjata Baru

BRICS Kencang Tinggalkan Dolar AS, Emas Jadi Senjata Baru

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil, Minggu, 6 Juli 2025, (BPMI Setpres/Ist)

Jakarta (Suara Kalbar)- Kelompok negara ekonomi berkembang BRICS semakin mempercepat pergeseran dari ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menuju emas sebagai aset cadangan strategis. Pergeseran ini dilakukan melalui peningkatan produksi emas, pengurangan penjualan, serta pembelian emas secara agresif di pasar internasional.

Kelompok ini pada awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Seiring berjalannya waktu, BRICS melakukan perluasan keanggotaan. Pada periode 2024 hingga 2025, sejumlah negara resmi bergabung sebagai anggota baru, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, Ethiopia, dan Indonesia.

Dengan masuknya negara-negara tersebut, BRICS kini mencakup kawasan Amerika Selatan, Eropa Timur, Asia Selatan, Asia Timur, Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara.

Secara resmi, negara-negara BRICS saat ini menguasai sekitar 20 persen cadangan emas dunia. Namun, apabila digabungkan dengan negara-negara sekutu strategis mereka, yang bukan anggota BRICS tetapi memiliki hubungan ekonomi dan geopolitik erat, kelompok ini kini mengendalikan sekitar 50 persen produksi emas global.

Rusia dan China menjadi motor utama dalam strategi ini. Pada 2024, China memproduksi sekitar 380 ton emas, sementara Rusia menyumbang 340 ton. Mengikuti arah kebijakan tersebut, Brasil pada September 2025 membeli 16 ton emas, yang menjadi pembelian emas pertamanya sejak 2021.

Dikutip dari Livemint, Senin (29/12/2025), Direktur Ya Wealth, Anuj Gupta menjelaskan negara-negara BRICS menerapkan strategi ganda dalam pengelolaan emas.

“Negara-negara anggota BRICS memproduksi emas lebih banyak dan menjualnya lebih sedikit. Pada saat yang sama, mereka juga membeli emas dari pasar internasional. Berdasarkan data yang ada, antara 2020 hingga 2024, bank sentral negara-negara BRICS membeli lebih dari 50% emas global, sebuah fakta yang kemungkinan tidak ingin didengar oleh Presiden AS Donald Trump,” ujar Anuj Gupta.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan