SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Mengurai Peluang dan Tantangan Mobil Hidrogen di Indonesia

Mengurai Peluang dan Tantangan Mobil Hidrogen di Indonesia

Mobil hidrogen Hyundai dipamerkan. (Hyundai.com/Dokumentasi)

Suara Kalbar – Mobil hidrogen kini menjadi salah satu topik hangat dalam dunia otomotif, terutama di tengah dorongan global menuju transisi energi bersih.

Mobil hidrogen hadir sebagai alternatif yang menjanjikan, menawarkan efisiensi, kecepatan pengisian, hingga emisi yang sangat rendah.

Namun, seperti teknologi baru pada umumnya, penerapannya tidak terlepas dari tantangan besar, mulai dari biaya, infrastruktur, hingga regulasi.

Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut ulasan secara menyeluruh terkait berbagai aspek penting pada mobil hidrogen agar lebih mudah dipahami.

Apa Itu Mobil Hidrogen dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Mobil hidrogen, atau fuel cell electric vehicle (FCEV), merupakan kendaraan listrik yang menghasilkan tenaga melalui proses elektrokimia di dalam sel bahan bakar.

Hidrogen yang tersimpan dalam tangki bertekanan tinggi bereaksi dengan oksigen dari udara, menghasilkan listrik, panas, dan uap air sebagai satu-satunya emisi.

Tidak seperti mobil listrik berbasis baterai BEV yang mengandalkan baterai besar sebagai sumber utama, FCEV memanfaatkan sel bahan bakar untuk memasok energi secara langsung ke motor listrik.

Kendati demikian, mobil hidrogen tetap memiliki baterai kecil sebagai penyeimbang daya. Kombinasi ini membuat mobil hidrogen mampu menempuh jarak lebih jauh dengan waktu pengisian yang singkat.

Kelebihan Mobil Hidrogen

Teknologi mobil hidrogen menawarkan sejumlah keunggulan yang membuatnya dianggap sebagai salah satu solusi transportasi masa depan.

1. Emisi sangat rendah

Sel bahan bakar hanya menghasilkan uap air sehingga mobil hidrogen dikategorikan sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. Emisi minim ini membantu pengurangan jejak karbon sektor transportasi secara signifikan.

2. Pengisian energi sangat cepat

Proses pengisian hidrogen hanya memerlukan waktu sekitar 3 hingga 5 menit, hampir setara dengan pengisian BBM konvensional. Kecepatan ini memberikan kenyamanan ekstra, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

3. Jarak tempuh lebih jauh

Mobil hidrogen dikenal memiliki jarak tempuh yang kompetitif. Banyak model FCEV mampu menempuh lebih dari 400 km, bahkan beberapa mencapai di atas 600 km dalam satu kali pengisian, menjadikannya cocok untuk perjalanan jauh.

4. Mengurangi ketergantungan pada energi fosil

Hidrogen dapat diproduksi dari berbagai sumber energi terbarukan seperti tenaga air, angin, dan surya. Jika produksinya menggunakan energi hijau, mobil hidrogen dapat mendukung ekosistem transportasi berkelanjutan.

5. Operasional lebih tenang dan stabil

Tanpa proses pembakaran internal, mobil hidrogen menghasilkan suara mesin yang jauh lebih halus. Motor listrik juga memberikan respon instan saat berakselerasi, menciptakan pengalaman berkendara yang nyaman.

Kekurangan dan Tantangan Mobil Hidrogen

Meski memiliki potensi besar, teknologi mobil hidrogen masih menghadapi hambatan yang cukup signifikan.

1. Minimnya infrastruktur pengisian

Stasiun pengisian hidrogen masih sangat terbatas, bahkan di negara maju. Kondisi ini menjadi penghalang utama sebelum mobil hidrogen dapat digunakan secara massal.

2. Biaya produksi dan harga kendaraan masih tinggi

Sel bahan bakar membutuhkan material khusus seperti platinum yang harganya mahal. Selain itu, produksi hidrogen berkualitas tinggi memerlukan biaya besar, sehingga harga mobil dan bahan bakarnya masih cukup tinggi.

3. Efisiensi energi belum maksimal

Proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi hidrogen membutuhkan energi besar. Efisiensi totalnya masih lebih rendah dibanding mobil listrik baterai yang menyimpan energi secara langsung.

4. Tantangan keamanan dan penyimpanan

Hidrogen adalah gas yang sangat mudah terbakar, sehingga penyimpanannya membutuhkan tangki bertekanan tinggi dengan standar keamanan ketat. Hal ini menambah kompleksitas dan biaya produksi.

5. Regulasi belum memadai

Di Indonesia, aturan terkait keselamatan hidrogen, tata niaga, hingga standar kendaraan masih dalam tahap pengembangan. Minimnya regulasi membuat industri belum sepenuhnya berani berinvestasi.

Kondisi Pengembangan Hidrogen di Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan hidrogen hijau berkat melimpahnya sumber energi terbarukan seperti panas bumi, air, surya, hingga biomassa. Namun, penerapannya masih terhambat beberapa faktor.

1. Produksi hidrogen hijau masih terbatas

Biaya produksi hidrogen melalui elektrolisis masih cukup tinggi. Industri membutuhkan skala produksi besar agar biaya bisa ditekan, sementara ekosistem hidrogen domestik belum terbentuk.

2. Infrastruktur penyimpanan dan distribusi minim

Fasilitas seperti elektroliser, penyimpanan hidrogen cair atau gas, hingga stasiun pengisian masih sangat terbatas. Tanpa infrastruktur memadai, penerapan mobil hidrogen sulit dilakukan.

3. Investasi belum optimal

Karena industri hidrogen membutuhkan dana besar dan jangka panjang, minimnya insentif membuat investor cenderung menunda langkah.

4. Aturan teknis belum lengkap

Standar keselamatan, transportasi, hingga spesifikasi teknis kendaraan hidrogen masih dalam pengembangan. Ketiadaan standar ini menghambat masuknya model FCEV ke pasar lokal.

Pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan hidrogen sebagai bagian dari strategi transisi energi. Jika berjalan konsisten, hidrogen berpotensi menjadi sumber energi penting di masa depan.

Bagaimana Prospek Mobil Hidrogen ke Depan?

Secara keseluruhan, mobil hidrogen memiliki peluang besar menjadi solusi transportasi berkelanjutan. Namun, kesuksesannya tergantung pada beberapa faktor berikut:

  • Ketersediaan infrastruktur memadai.
  • Penurunan biaya produksi hidrogen hijau.
  • Efisiensi dan inovasi sel bahan bakar.
  • Regulasi yang jelas dan mendukung investasi.
  • Kolaborasi industri untuk membangun ekosistem hidrogen.

Saat ini, mobil hidrogen mungkin belum menjadi pilihan utama masyarakat, terutama di negara dengan infrastruktur terbatas. Namun dalam jangka panjang, teknologi ini berpotensi berkembang berdampingan dengan mobil listrik berbasis baterai.

Daftar Mobil Hidrogen Global dan Kehadirannya di Indonesia

Beberapa produsen otomotif global telah meluncurkan mobil hidrogen, seperti:

  • Toyota Mirai: Diluncurkan pertama kali pada 2014, generasi kedua hadir pada 2020.
  • Hyundai Nexo: Debut global pada 2018 dengan jarak tempuh hingga 611 km.
  • Honda Clarity: Dipasarkan di Amerika Serikat sejak 2016.

Di Indonesia sendiri, belum ada mobil hidrogen yang resmi dipasarkan. Namun, pemerintah mulai mempersiapkan infrastruktur dasar. Pada 2024, Kementerian ESDM meresmikan stasiun pengisian hidrogen pertama di Senayan, bekerja sama dengan PT PLN yang sebelumnya mengembangkan 21 Green Hydrogen Plant.

Mobil hidrogen menawarkan masa depan transportasi yang lebih bersih, cepat, dan efisien. Meski masih menghadapi banyak tantangan, peluang pengembangannya sangat besar, terutama jika didukung regulasi dan infrastruktur yang memadai.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan