SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Wamen Komdik Ingatkan Media Tidak Biarkan AI Membunuh Nurani Jurnalisme

Wamen Komdik Ingatkan Media Tidak Biarkan AI Membunuh Nurani Jurnalisme

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Nezar Patria, dalam kegiatan Local Media Summit di Jakarta pada Selasa (07/10/2025). [SUARAKALBAR.CO.ID/Maria]

Jakarta (Suara Kalbar) – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Nezar Patria, mengingatkan agar media tidak kehilangan nurani dan prinsip dasar jurnalisme di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi berita.

Pesan tersebu disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Local Media Summit yang diinisiasi oleh Suara.com bersama IMC di Jakarta, pada Selasa (07/10/2025).

Awalnya, Nezar menyoroti hasil laporan Thomson Foundation yang menunjukkan besarnya penggunaan teknologi AI di ruang redaksi.

“Ijinkan saya mengutip apa yang disampaikan oleh Thomson Foundation yang baru saja merilis satu laporan menarik dengan tajuk jurnaliskan bahwa mereka menggunakan fitur AI dalam kegiatan jurnalisme mereka 81%,” ujarnya.

Menurut Nezar, angka tersebut menandakan bahwa penetrasi AI dalam pekerjaan sehari-hari di newsroom, termasuk media lokal, semakin kuat.

“Hampir separuh dari mereka bahkan mengintegrasikannya ke dalam algoritma kerja. Jadi AI dipakai dalam workflow di newsroom dan sepertiganya menggunakannya secara berkala,” lanjutnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa adopsi AI di dunia media tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar jurnalisme.

“Di sisi lain, adopsi AI ini bukan tanpa kecemasan, bukan tanpa kekhawatiran. Sebagian dari responden menyuarakan bahwa ada kecemasan jangka panjang, terutama mengenai potensi penurunan kemampuan digital realitas. Ini cukup serius, apalagi kalau kita berbicara tentang jurnalisme kualitas, good journalism,” kata Nezar.

Ia menilai, jurnalisme yang baik harus tetap berpegang pada tiga unsur utama: critical thinking, skill, dan ethics.

“Kalau critical thinking ini kemudian digantikan oleh artificial intelligence, ini menjadi bahaya dan virus bagi karya jurnalisme yang berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, hilangnya kemampuan berpikir kritis juga berarti hilangnya orisinalitas manusia serta meningkatnya risiko bias dan misinformasi dalam berita.

Nezar menyebut, Indonesia telah merespons cepat fenomena penggunaan AI di media dengan dikeluarkannya panduan etika oleh Dewan Pers. Panduan tersebut, menjadi pedoman agar setiap penggunaan AI dilakukan secara transparan, etis, dan bertanggung jawab.

“Kurangnya transparansi dalam akuntabilitas, dalam membedakan konten yang disediakan manusia dengan yang diproduksi mesin, ini akan menyebabkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pers,” katanya.

Nezar mengingatkan bahwa media perlu memiliki kesadaran dan batas yang jelas dalam menggunakan teknologi.

“Penggunaan AI harus dilakukan dengan tertata, dengan panduan, dan dengan kesadaran. Jadi harus ada yang namanya AI aware, sadar bahwa kita menggunakan AI dan harus bisa mengambil jarak dengan AI. Jadikan AI sebagai partner dalam proses produksi, bukan kita yang diatur oleh AI,” tegasnya.

Nezar menyampaikan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital tengah memfinalisasi peta jalan kecerdasan buatan nasional. Dua dokumen penting yang sedang disiapkan adalah peta jalan AI nasional serta pedoman keamanan dan keselamatan dalam penggunaan AI.

Nezar juga menyoroti perubahan besar yang mungkin terjadi di masa depan akibat kehadiran AI.

“Kita bisa merasakan bahwa ke depan mungkin media-media tidak butuh lagi editor. Karena mesinnya sudah dilatih untuk menulis berita. Anda bisa masukkan satu press release ke ChatGPT misalnya, dan dia bisa membuat satu berita sesuai gaya yang Anda inginkan,” katanya.

Meski demikian, Nezar menegaskan bahwa jurnalisme sejati tidak bisa digantikan oleh mesin. Ia mengutip pemikiran Walter Lippmann, penulis dan komentator terkenal tentang politik opini, yang menyebutkan bahwa fungsi berita adalah untuk menunjukkan realitas, sementara tugas komentator adalah untuk mengumpulkan pendapat.

“Inti jurnalisme terletak pada sesuatu yang tidak dimiliki oleh algoritma seperti nurani, empati, dan pengalaman hidup. Mesin tidak punya pengalaman hidup. Kualitas manusialah yang memungkinkan kita memahami konteks yang kompleks, merasakan dampak suatu cerita, dan yang terpenting menjaga realitas yang utuh bagi publik,” pungkasnya.

Penulis: Maria

Komentar
Bagikan:

Iklan