Mikroplastik Menyebar Lewat Udara hingga Hujan, Ancaman Baru Bagi Lingkungan
Suara Kalbar- Isu mikroplastik kini semakin menyita perhatian publik seiring meningkatnya kesadaran akan dampak pencemaran lingkungan.
Butiran kecil yang hampir tak kasat mata ini telah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari laut, tanah, hingga udara.
Penelitian terbaru bahkan mengungkap mikroplastik kini juga terdapat dalam air hujan, menandakan polusi plastik telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, jika air hujan saja sudah mengandung mikroplastik, dari mana lagi partikel-partikel ini berasal?
Lebih mencengangkan lagi, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik tidak hanya ditemukan di kawasan perkotaan yang padat aktivitas manusia, tetapi juga di wilayah terpencil yang jauh dari peradaban. Artinya, penyebaran mikroplastik sudah sangat luas dan kompleks.
Partikel mikroplastik dapat melayang di udara, terbawa angin, atau mengalir bersama air hingga berpindah dari satu ekosistem ke ekosistem lain tanpa disadari.
Dalam prosesnya, partikel-partikel ini bisa menempel pada permukaan tanah, mengendap di dasar laut, bahkan terhirup oleh manusia dan hewan. Tanpa kita sadari, lingkungan yang terlihat bersih sekalipun mungkin telah menyimpan partikel plastik dalam jumlah besar.
Temuan ini menjadi peringatan serius bahwa masalah mikroplastik tidak bisa dianggap remeh. Ada banyak faktor yang turut memperparah penyebarannya di lingkungan.
Menelusuri berbagai sumber penyebab mikroplastik menjadi langkah penting untuk memahami seberapa besar ancaman yang sedang dihadapi bumi dan penghuninya.
Sumber Utama Penyebaran Mikroplastik
Selain dari air hujan, ada sejumlah faktor lain yang mempercepat munculnya dan penyebaran mikroplastik di udara, tanah, maupun air. Berikut beberapa di antaranya yang dikutip dari laman Science Direct, Kamis (30/10/2025).
1. Pemanasan global
Pemanasan global meningkatkan suhu di atmosfer, lautan, dan daratan. Suhu tinggi mempercepat proses pelapukan plastik yang terpapar sinar ultraviolet dan panas, hingga akhirnya terurai menjadi partikel kecil atau mikroplastik.
Selain itu, perubahan iklim ekstrem seperti badai dan banjir turut mempercepat penghancuran sampah plastik di alam terbuka. Akibatnya, mikroplastik lebih mudah terbawa oleh air hujan, udara, dan aliran sungai.
2. Pemakaian produk sehari-hari
Beragam produk rumah tangga seperti deterjen, pembersih, kantong plastik, botol air, serta kemasan makanan yang sering terpapar panas dan sinar matahari dapat pecah menjadi partikel kecil.
Selain itu, pakaian berbahan sintetis seperti polyester, nylon, dan acrylic juga melepaskan serat mikroplastik setiap kali dicuci. Serat-serat inilah yang kemudian mengalir ke sistem pembuangan air dan akhirnya mencemari lingkungan.
3. Industri manufaktur
Sektor industri berperan besar dalam produksi dan pembuangan bahan plastik. Penelitian menunjukkan ban kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber mikroplastik terbesar karena melepaskan partikel halus setiap kali bergesekan dengan jalan.
Selain itu, sisa proses produksi seperti serbuk plastik, pelet, dan limbah pabrik sering terlepas ke udara atau saluran air tanpa pengolahan yang memadai. Emisi dari mesin industri juga mempercepat degradasi plastik di area produksi.
4. Kegiatan pariwisata
Aktivitas pariwisata, terutama di kawasan pantai dan pulau, turut berkontribusi pada pencemaran mikroplastik. Sampah dari botol minuman, kemasan makanan, hingga perlengkapan wisata yang terpapar sinar matahari dan air laut akan lebih cepat terurai menjadi partikel kecil.
Ketika jumlah wisatawan meningkat, potensi pencemaran pun ikut naik karena sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata sering tidak optimal. Dampaknya langsung terasa pada ekosistem laut di sekitar wilayah wisata tersebut.
5. Sektor perikanan
Industri perikanan juga menjadi sumber mikroplastik melalui penggunaan alat tangkap berbahan plastik, seperti jaring nilon, tali, dan wadah ikan. Saat alat tangkap rusak, serpihan kecilnya jatuh ke laut dan sulit terurai.
Selain itu, limbah dari kegiatan budidaya ikan atau kapal penangkap yang membuang sisa plastik ke laut semakin memperparah kontaminasi. Mikroplastik dari aktivitas ini akhirnya masuk ke rantai makanan laut yang dikonsumsi manusia.
Dampak Mikroplastik bagi Lingkungan dan Kesehatan
Mikroplastik memiliki dampak buruk tidak hanya bagi ekosistem, tetapi juga bagi kesehatan manusia. Partikel kecil ini dapat mencemari udara, air, dan tanah yang kita gunakan setiap hari.
Mikroplastik yang terhirup atau tertelan dapat menumpuk di tubuh, memicu peradangan, gangguan hormonal, hingga masalah pada organ vital.
Lingkungan pun mengalami dampak jangka panjang, mulai dari terganggunya rantai makanan laut, pencemaran tanah pertanian, hingga menurunnya kualitas air bersih.
Langkah Mengurangi Pencemaran Mikroplastik
Untuk menekan penyebaran mikroplastik, diperlukan upaya nyata dari semua pihak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Menghindari penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong, sedotan, dan botol air.
- Meningkatkan sistem pengelolaan dan daur ulang sampah plastik.
- Tidak memanaskan plastik di dalam microwave, karena panas dapat melepaskan partikel berbahaya.
- Mengurangi konsumsi produk berbahan sintetis dan beralih ke bahan alami.
- Mendukung program pemulihan lingkungan dan kebijakan pengurangan plastik nasional.
Namun, semua langkah tersebut tidak akan efektif tanpa dukungan dan kesadaran publik. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil, seperti membawa botol minum sendiri, memilah sampah, dan memilih produk ramah lingkungan.
Menjaga bumi dari ancaman mikroplastik bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau industri, tetapi juga tugas setiap individu yang peduli pada masa depan planet ini.
Sumber: Beritasatu.com






