Homo Erectus Pulang ke Indonesia, Setelah 134 Tahun di Belanda
Suara Kalbar – Setelah lebih dari satu abad berada di Eropa, salah satu peninggalan paling penting dalam sejarah evolusi manusia, Homo erectus atau yang dikenal sebagai Pithecanthropus erectus, akhirnya kembali ke Indonesia.
Fosil yang dijuluki Sang Manusia Jawa ini menjadi bagian dari repatriasi 30.000 artefak dari Belanda. Momen bersejarah tersebut diserahkan langsung dalam prosesi resmi antara Presiden Prabowo Subianto dan Raja Belanda Willem Alexander di Den Haag, pada Jumat (26/9/2025).
Homo Erectus dan Perjalanan Panjang Sang Manusia Jawa
Pengembalian fosil Homo erectus bukan sekadar pemindahan benda purbakala, melainkan penanda penting bagi pemulihan kedaulatan budaya, sejarah, dan martabat bangsa. Fosil ini kini akan menjadi pusat studi di Museum Nasional Jakarta, rumahnya yang sesungguhnya.
Fosil Homo erectus pertama kali ditemukan oleh arkeolog Belanda, Eugène Dubois, pada 1891 di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Temuan tersebut mencakup tempurung tengkorak (skull cap), geraham, dan tulang paha (femur). Dubois kemudian menamainya Pithecanthropus erectus, yang berarti manusia kera yang berjalan tegak.
Pada masanya, temuan ini dianggap sebagai the missing link atau mata rantai yang hilang antara primata awal dan manusia modern (homo sapiens). Fosil tersebut menjadi penemuan Homo erectus pertama di dunia yang diidentifikasi secara ilmiah.
Namun, seluruh koleksi Dubois yang berjumlah sekitar 28.000 fosil kemudian dibawa ke Belanda dan disimpan di Naturalis Museum, Leiden, selama lebih dari 134 tahun.
Upaya Repatriasi Homo Erectus dari Belanda
Kepulangan fosil Homo erectus ke Indonesia merupakan hasil diplomasi budaya yang panjang. Sejak Maret hingga Mei 2025, tim repatriasi Kementerian Kebudayaan RI secara resmi mengajukan permintaan pengembalian artefak ke Belanda.
Pada Juni 2025, permintaan tersebut disampaikan langsung kepada menteri kebudayaan Belanda. Gayung bersambut, pemerintah Belanda menunjukkan itikad baik untuk mempererat hubungan bilateral.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Belanda berkomitmen mengembalikan 30.000 artefak bersejarah milik Indonesia. Di antara koleksi tersebut, fosil Homo erectus dari Trinil menjadi prioritas utama.
Upacara serah terima simbolis dilakukan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Gouke Moes, kepada Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, pada 26 September 2025.
Makna Penting Kepulangan Homo Erectus
Kembalinya fosil Homo erectus memiliki arti besar, baik bagi ilmu pengetahuan maupun identitas bangsa. Beberapa makna pentingnya antara lain:
- Warisan sejarah evolusi
Homo erectus adalah spesimen penting yang membantu ilmuwan merekonstruksi sejarah evolusi manusia. Penemuan ini menegaskan Indonesia adalah salah satu pusat peradaban manusia purba dunia.
- Pemulihan kedaulatan budaya
Fosil yang diambil pada masa kolonial ini akhirnya kembali ke Tanah Air. Hal ini menjadi simbol pengakuan kepemilikan sah Indonesia sekaligus pemulihan kedaulatan budaya.
- Penguatan riset nasional
Dengan fosil Homo erectus ditempatkan di Museum Nasional Jakarta, para peneliti dan arkeolog Indonesia kini memiliki akses penuh untuk melakukan riset.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan Indonesia telah menyiapkan fasilitas dan tenaga ahli untuk merawat fosil sekaligus membuka kerja sama ilmiah internasional.
Kepulangan Homo erectus dari Trinil ini menandai era baru. Indonesia tidak lagi sekadar lokasi penemuan, tetapi juga pusat studi utama paleoantropologi dunia. Dengan langkah ini, Indonesia menegaskan posisinya dalam sejarah evolusi manusia sekaligus memperkuat identitas budaya dan ilmu pengetahuan bangsa.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






