Karut Marut MBG, Negara Layak Mawas Diri
Oleh: Siti Hasbiah
Orang tua murid di salah satu SD di Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya, mengeluhkan Makan Bergizi Gratis/MBG yang diberikan kepada anak mereka ternyata basi dan berbau tak sedap.(pontianak.tribunnews.com)
Program MBG yang sejatinya bermaksud untuk menanggulangi problem stunting dan meningkatkan kualitas gizi para siswa, ternyata mengalami karut marut pada pelaksanaannya.
Pengaduan dari orang tua murid terkait makanan yang tak layak, sampai kejadian keracunan massal yang dialami para siswa, membuat program populis ini banyak mendapatkan kecaman.
Sejatinya, program MBG ini bukanlah solusi yang betul betul tepat untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi siswa. Karena problem tersebut adalah karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar mereka, akibat dari pemasukan rakyat yang rendah, bahkan pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan mereka. Inilah yang menyebabkan masyarakat tak mampu mengakses makanan dengan gizi yang layak.
Mengapa rakyat hidup miskin?. Ini karena sumber pemasukan negara yang berlimpah tidak digunakan untuk mensejahterakan rakyat. Negeri yang kaya SDA ini penguasanya justru membiarkan SDA yang ada dijarah oleh segelintir kaum kapitalis serakah, sementara rakyat dibiarkan sengsara.
Maka perlu perubahan paradigma agar kehidupan bisa berubah. Dan itu hanya ada pada sistem islam. Dalam islam, negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok seluruh rakyat, bahkan rakyat akan dengan leluasa bisa mengakses kebutuhan sekunder dan tersiernya.
Seluruh SDA yang ada akan dikelola oleh negara, dan dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan vital mereka. Maka, hanya dengan hal demikianlah kualitas gizi masyarakat akan terpenuhi. Bukan dengan program populis seperti MBG yang terbukti tak mampu menyelesaikan problem kualitas gizi masyarakat.
*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalimantan Barat
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






