Caping Anyaman Kalbar Jadi Oleh-oleh Incaran Wisatawan
Pontianak (Suara Kalbar) – Caping anyaman khas Kalimantan Barat (Kalbar) terus berinovasi dan kini tidak hanya dipakai untuk aktivitas bertani atau berkebun, tetapi juga berkembang menjadi produk fesyen, dekorasi rumah hingga pelengkap acara.
Mila, seorang pengrajin caping menyampaikan bahwa dirinya kerap diundang ke berbagai acara dan pameran seni di Pontianak, ia tidak hanya menampilkan karya terbaru, tetapi juga melakukan peragaan langsung melukis di atas caping.
“Lumayan, tinggal kita tingkatkan ide-ide terbaru lagi supaya pembeli tidak bosan. Caping ini bisa juga untuk dekorasi rumah, fashion, dan event. Saya juga sering diundang ke berbagai acara untuk memamerkan karya,” ujar Mila saat diwawancara, pada Selasa (24/09/2025).
Ia mengungkapkan karya capingnya sudah sampai ke sejumlah daerah di Indonesia hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Bahkan, ada di antara satu karyanya yang pernah dibeli wisatawan saat pameran di hotel-hotel besar.
“Kalau untuk oleh-oleh, karya saya sudah sampai ke Malaysia, Singapura, Australia. Kalau yang untuk kebutuhan sehari-hari, caping tetap dipakai petani dan nelayan, biasanya mereka ambil langsung di pasar tengah,” jelas Mila.
Soal harga, caping tradisional yang dibuat dari daun mengkuang dibanderol mulai Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. Namun, setelah diberi sentuhan inovasi dan lukisan, nilainya bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per buah, tergantung motif dan kerumitannya.
Proses pengerjaan caping bervariasi, ada yang bisa selesai dalam satu hari, ada pula yang membutuhkan waktu hingga tiga hari, terutama untuk jenis caping berlapis kain atau dengan corak tertentu.
Selain dijual, caping karyanya juga disewakan untuk keperluan foto maupun acara. “Kalau sewa caping per jam Rp 10 ribu–Rp 14 ribu, kalau untuk dua hari sampai tiga hari sekitar Rp 50 ribu,” tambah Mila.
Dengan ide yang terus dilakukan, Mila berharap caping khas Kalbar bisa semakin dikenal luas sebagai produk budaya yang memiliki nilai seni tinggi sekaligus bernilai ekonomi.
Penulis: Syahrul Barokah/Maria






