Refleksi Kolase 2025: Mengenali, Mencintai, dan Melindungi Alam
Pontianak (Suara Kalbar) -Kegiatan Kolase Journalist Camp (KJC) 2025 resmi ditutup dengan penuh semangat dan refleksi mendalam terhadap peran media dan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Lebih dari 60 peserta dari berbagai latar belakang seperti jurnalis, pers mahasiswa, pencinta alam, konten kreator, organisasi masyarakat sipil (CSO), hingga pengelola hutan desa, turut hadir dan terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Penutupan dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Kolase, Andi Fachrizal. Dalam sambutannya, Andi menekankan pentingnya mengenali ragam hayati sebagai langkah awal untuk membangun rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Ragam hayati kita itu sungguh sangat kaya, sayang sekali sentuhan kawan-kawan sangat lemah, karena tidak ada networking, tidak ada jejaring,” ungkap Andi.
Ia menyoroti pentingnya membangun jejaring antar lembaga yang memiliki kapasitas dalam isu kelautan dan kehutanan, seperti Yayasan WeBe Ketapang dan WWF Indonesia, agar pengetahuan tentang kekayaan alam Kalimantan bisa tersebar lebih luas dan dimanfaatkan secara bijak oleh publik, termasuk generasi muda.
Andi juga menggarisbawahi bahwa mengenali hutan dan laut bukan hanya soal pengetahuan, tetapi menjadi dasar kesadaran terhadap ancaman nyata yang kini dihadapi, seperti perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi lingkungan.
“Lapisan es di kutub utara sudah mencair, muka laut meningkat, hutan-hutan kita rusak, dan debit air Sungai Kapuas naik drastis. Itu penyebab banjir yang selama ini kita anggap biasa,” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung kebiasaan buruk masyarakat dalam memperlakukan sungai sebagai tempat sampah, bukan sebagai sumber kehidupan.
“Sungai kita perlakukan sebagai keranjang sampah, padahal itu urat nadi kehidupan. Narasi yang menyebut sungai membelah kota Pontianak juga keliru. Faktanya, sungailah yang menyatukan kota ini dengan sejarah dan peradaban,” ujarnya.
Penutupan KJC 2025 juga menjadi ajakan untuk terus bergerak dan berjejaring. Andi menekankan bahwa kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kerja-kerja panjang dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
“Kalau terlalu sulit, jangan takut meniti jalan panjang dan rumit. Yang penting kita punya tujuan yang sama,” katanya, memotivasi peserta.
Ia juga mengajak seluruh alumni KJC untuk terus menjaga komunikasi melalui ekosistem digital dan tetap setia mengawal isu-isu lingkungan, baik lewat karya jurnalistik, konten kreatif, maupun aksi komunitas.
Mengakhiri sambutannya, Andi menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan kegiatan dan berharap dukungan moral dari semua pihak agar Kolase dapat terus aktif dan berkembang ke depannya.
“Kalau semua dirasa sudah baik, tolong bantu saya untuk terus men-support agar Kolase ke depan bisa lebih aktif dan berdampak,” tutupnya.






