SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Kisah IGK Manila, Mantan Pengawal Bung Karno yang Baru Berpulang

Kisah IGK Manila, Mantan Pengawal Bung Karno yang Baru Berpulang

Kenangan IGK Manila saat menjaga Presiden Soekarno. (Beritasatu.com/Instagram)

Suara Kalbar – Politisi senior sekaligus mantan perwira militer, IGK Manila, tutup usia pada Senin (18/8/2025). Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan, salah satunya kisah langka saat ia pernah menjadi pengawal pribadi Presiden Soekarno ketika sang proklamator ditahan di Wisma Paso, Jakarta—kini dikenal sebagai Museum Satria Mandala.

Dalam sebuah wawancara di program Untold Story, IGK Manila mengisahkan bagaimana ia ditugaskan langsung oleh Kolonel CPM Norman Sasono, Komandan Satgas POM AD, untuk menjaga sosok penting yang saat itu identitasnya masih dirahasiakan.

“Saya diperintahkan menjaga seseorang yang sangat penting. Tidak boleh menerima tamu, tidak boleh lalai. Kalau sampai terjadi apa-apa, saya dipecat,” kenang IGK Manila pada program Untold Story, Senin (18/8/2025).

Awalnya, IGK Manila dan dua rekannya tidak mengetahui siapa yang mereka jaga. Semua pintu dikunci dan tidak ada akses ke dalam rumah. Namun pada sore hari, sosok tersebut akhirnya keluar untuk menghirup udara segar. Barulah mereka sadar, bahwa orang tersebut adalah Bung Karno.

“Waktu itu keluar seorang pria berpakaian sederhana. Begitu kami lihat lebih dekat, baru sadar, ‘Lho, ini Bung Karno, presiden kita!’” katanya dengan nada terkejut.

Pada masa itu, Soekarno berada di bawah pengawasan ketat karena dianggap berbahaya oleh pemerintah militer. Ia diperiksa oleh tim pemeriksa pusat (Teperpu) karena dituduh terkait dengan Gerakan 30 September/PKI.

IGK Manila menjelaskan, Wisma Paso digunakan sebagai tempat pengasingan Bung Karno, dan hanya tamu dengan izin dari Komandan yang boleh bertemu.

“Biasanya tamunya cuma tiga orang dan harus seizin Pak Norman,” jelasnya.

IGK Manila mengungkapkan, ia hanya diberi sebuah pistol dengan delapan peluru. Dari peluru itu, ia sudah menyiapkan satu untuk dirinya sendiri jika terjadi penyerangan.

“Saya bilang ke Bung Karno, kalau ada apa-apa, tujuh peluru untuk menyerang, satu peluru buat saya. Daripada disiksa saat diperiksa, lebih baik saya mati,” ungkapnya penuh emosi.

Menurutnya, situasi saat itu sangat tegang. Demonstrasi dari kelompok seperti KAMI dan KAPI sering terjadi, dan Wisma Paso bukan tempat yang aman.

Selama 10 hari menjaga, IGK Manila sering diminta untuk tidur di dalam rumah dan memijat Bung Karno sebelum tidur. Di sanalah ia mendengar cerita pribadi dari sang presiden.

Salah satu cerita paling menyentuh adalah soal perpisahan Bung Karno dan Bung Hatta, yang dikenal sebagai pasangan “Dwitunggal” dalam sejarah Indonesia.

“Bung Karno bilang, ‘Bung Hatta itu cinta sekali sama istrinya, Rahmi. Dia kurang setuju Bung Karno poligami. Karena itu Bung Hatta memilih mundur’,” ujar IGK Manila, menyampaikan curahan hati Bung Karno.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan