SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia Hubungan Australia–Israel Memanas, Netanyahu Sebut Albanese ‘Pemimpin Lemah’

Hubungan Australia–Israel Memanas, Netanyahu Sebut Albanese ‘Pemimpin Lemah’

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyampaikan Australia akan mengakui negara Palestina, pernyataannya disampaikan setelah rapat kabinet pada Senin 11 Agustus 2025. (AAP Image via AP/Mick Tsikas)

Suara Kalbar – Hubungan Australia dan Israel memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan sindiran keras terhadap Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Netanyahu menyebut Albanese sebagai politisi lemah yang mengkhianati Israel, seusai Canberra mengumumkan pengakuan resmi terhadap negara Palestina pekan lalu.

Pernyataan pedas Netanyahu langsung menuai kecaman dari pejabat Australia. Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke, pada Rabu (20/8/2025) menyebut komentar Netanyahu sebagai tanda seorang pemimpin yang sedang frustrasi.

“Kekuatan tidak diukur dari berapa banyak orang yang bisa Anda ledakkan atau berapa banyak anak yang bisa Anda biarkan kelaparan,” ujar Burke kepada penyiar nasional ABC.

“Beberapa tindakan Israel justru semakin mengisolasi mereka dari dunia internasional, dan itu jelas tidak menguntungkan,” ujarnya.

Australia selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Israel. Bahkan pada 1950-an, Melbourne menjadi kota dengan populasi penyintas Holocaust terbesar di luar Israel. Namun, hubungan kedua negara kini memburuk tajam sejak Canberra mengumumkan akan mengakui negara Palestina bulan depan, menyusul langkah serupa yang diambil Prancis, Kanada, dan Inggris.

Dalam sembilan hari sejak keputusan itu, ketegangan semakin meningkat. Pada Senin (18/8/2025), Australia membatalkan visa politisi sayap kanan Israel, Simcha Rothman, yang merupakan anggota koalisi Netanyahu, dengan alasan rencana tur pidatonya dianggap dapat menyebarkan perpecahan.

Israel kemudian membalas dengan mencabut visa perwakilan diplomatik Australia untuk Otoritas Palestina.

Netanyahu melanjutkan serangan verbalnya lewat media sosial. “Sejarah akan mengingat Albanese apa adanya: seorang politisi lemah yang mengkhianati Israel dan menelantarkan orang-orang Yahudi Australia,” tulis Netanyahu di platform X.

Sementara itu, Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon pekan lalu juga menyatakan bahwa Netanyahu telah kehilangan kendali.

Israel semakin terisolasi di panggung internasional akibat perang di Gaza, yang dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023. PBB telah memperingatkan risiko kelaparan meluas di Gaza akibat ketatnya blokade bantuan kemanusiaan oleh Israel.

Hubungan Australia–Israel sendiri sudah mulai merenggang sejak tahun lalu, setelah serangkaian serangan anti-Semit terjadi di Sydney dan Melbourne. Ketegangan semakin memburuk ketika sebuah sinagoge di Australia dibom bakar pada Desember 2024. Netanyahu menuduh pemerintah Australia menyimpan “sentimen anti-Israel” setelah insiden tersebut.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan