Istri Shalihah, Investasi Terbaik Dunia Akhirat
Oleh: Alif Fani Pertiwi, S.E
“Maukah aku beritahukan kepadamu sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri shalihah,” sabda Nabi Muhammad ﷺ dalam HR. Abu Dawud. Dalam hadis lain, beliau menyebut bahwa istri shalihah termasuk salah satu dari empat hal yang membawa kebahagiaan, sedangkan istri yang buruk menjadi salah satu penyebab kesengsaraan (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).
Islam memuliakan seorang istri yang shalihah bukan tanpa alasan. Istri shalihah bukan sekadar pasangan hidup, tetapi juga investasi jangka panjang, bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga akhirat.
Istri shalihah adalah penyempurna iman bagi suaminya, penenang jiwa dalam lelahnya kehidupan, sekaligus madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Salah satu sifat utama yang mencerminkan nilai luar biasa dari istri shalihah adalah qanaah—sikap menerima dengan lapang dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Dalam kehidupan rumah tangga, sifat ini adalah benteng dari rasa iri, dari sikap membanding-bandingkan, dari jeratan gaya hidup konsumtif yang kerap merusak keharmonisan.
Bayangkan, ketika seorang suami pulang ke rumah dan disambut oleh istri yang qanaah. Ia tidak menuntut berlebihan, tidak memaksa suami memenuhi keinginan di luar kemampuan. Tentunya, suami akan merasa tenteram. Mentalnya ringan, pikirannya jernih. Ia bisa bekerja dengan fokus, tenang, dan produktif. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kariernya melesat karena beban emosional di rumah nyaris tidak ada.
Sebaliknya, jika seorang istri tidak memiliki sifat qanaah; selalu merasa kurang, bersikap konsumtif, gemar membandingkan, dan terus menuntut suami. Maka rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat yang menenangkan, bisa berubah menjadi sumber tekanan. Suami yang awalnya bekerja dengan semangat, perlahan bisa berubah menjadi sosok yang tertekan, mudah tersulut emosi, dan lelah secara batin. Ia mungkin masih tersenyum di luar rumah, tetapi hatinya sesak memikul beban yang tak pernah dipahami. Ketika rumah tak lagi bisa menjadi tempat beristirahat, maka pekerjaan pun jadi terasa berkali-kali lebih berat.
Beban yang terus menumpuk dapat mendorongnya berutang ke sana kemari, bahkan—naudzubillah— bisa terjerumus pada jalan pintas yang haram, hanya demi memenuhi tuntutan Istri.
Itu baru satu sifat saja dari istri shalihah. Belum lagi jika kita bicara tentang ketaatannya kepada Allah dan suami, penjagaannya terhadap kehormatan keluarga, serta kemampuannya mendidik anak-anak dengan akhlak, adab, dan kasih sayang. Istri seperti ini menjadi pondasi ketahanan keluarga dan masyarakat.
Sayangnya, realita yang terjadi hari ini tak bisa dipungkiri, tantangan menjadi istri shalihah semakin besar. Di tengah derasnya arus media sosial, banyak istri justru terdorong mengikuti standar kebahagiaan versi unggahan Tiktok dan Instagram, padahal semua itu hanyalah kebahagiaan yang semu.
Istri tidak lagi berlomba dalam kebaikan, tapi dalam pencitraan. Ada yang menuntut suaminya membelikan barang-barang mewah demi konten, ada yang merasa rendah diri karena suaminya tak sekaya suami orang lain yang viral.
Akhirnya, yang dikejar bukan lagi ridha Allah, tapi validasi dari dunia maya.
Zaman memang serba materialistis. Namun kebahagiaan rumah tangga tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari keberkahan. Dan keberkahan itu, sering kali, datang dari kehadiran seorang istri yang shalihah.
Maka wajar jika Islam begitu memuliakan istri shalihah, menempatkannya sebagai perhiasan terbaik di dunia, bahkan lebih baik dari bidadari-bidadari yang ada di surga.
*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalimantan Barat
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






