Menginspirasi, Sekolah Ini Bantu Anak Tunarungu Belajar Al-Quran Mengaji dengan Bahasa Isyarat
Pontianak (Suara Kalbar)– Menjelang Ashar beberapa anak-anak berkumpul di halaman Yayasan Bhakti Arumi Delangga, Jalan Kom Yos Sudarso untuk belajar mengaji pada Selasa (4/3/2025). Anak-anak ini membawa iqro dan Al-Quran, murid laki-laki belajar di halaman depan dengan beralaskan terpal, sementara murid perempuan belajar di dalam ruangan. Mereka dibimbing oleh guru-guru yang siap memberikan mereka Ilmu mempelajari Al-Quran.
Uniknya di yayasan inilah anak-anak tunarungu atau teman tuli mempelajari Al-Quran, dengan menggerakkan jari berbahasa isyarat mereka mengeja huruf di dalam Alquran. Sesekali bibir mereka bergerak mencoba melafazkan kata yang mereka pelajari.
Di Maktab Tuli As-Sami inilah anak-anak tunarungu belajar Islam dan Al-Quran, kegiatan ini dilakukan agar mereka yang memiliki keterbatasan tetap bisa belajar seperti anak biasa lainnya. Diketahui, di Kalimantan Barat, hanya Maktab Tuli As-Sami lah yang memiliki program mengaji untuk tunarungu.
Para pengajar di yayasan ini juga diharuskan bisa berbahasa Isyarat agar bisa berkomunikasi dengan anak-anak tunarungu. Salah satunya adalah Muhammad Romli, yang merupakan pengajar sekaligus pengurus Maktab Tuli As-Sami. Ia menyampaikan bahwa yayasan ini sudah berjalan selama dua tahun.
“Alhamdullilah yayasan ini sudah dua tahun, dulunya satu tahun pertama kita di masjid belakang ini, dipinjamkan buat belajar, sekarang alhamdullilah sudah ada tempat sendiri untuk belajar,”katanya.
Lebih lanjut, Romli menjelaskan bahwa pada tahun pertama murid-murid yang bergabung dengan Maktab Tuli As-Sami masih sedikit. Seiring berjalannya waktu, saat ini ditahun kedua murid yang bergabung sudah sekitar 53 orang.
“Alhamdullilah sekarang sudah 53 orang yang bergabung dengan kita,” tambahnya.
Murid yang belajar di Maktab Tuli As-Sami pun beragam, mulai dari umur 10 tahun hingga 50 tahun. Menurutnya tidak ada batasan umur untuk belajar agama.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa murid di Maktab Tuli As-Sami ini tidak hanya berasal dari Pontianak, tapi ada juga dari daerah-daerah lain seperti Sintang, Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, Singkawang hingga sambas.
“Hampir semua kabupaten itu kita ada kecuali saat ini yang belum itu Bengkayang dan Kapuas Hulu,”ujarnya.
Romli menjelaskan, menurutnya saat ini program belajar untuk tunarungu masih sangat minim, apalagi di bidang keagamaan, masih banyak anak-anak tunarungu di daerah yang bahkan tidak mengerti bahasa isyarat apalagi mengaji dengan bahasa isyarat. Oleh karena itu Maktab Tuli As-Sami berusaha merangkul tunarungu agar bisa mempelajari Islam dan Al-Quran.
“Target kita bagaimana anak-anak teman tuli itu bisa mendapatkan akses belajar ilmu agama,” jelas Romli
Ia mengibaratkan anak-anak tunarungu ini seperti kaset kosong yang tidak mengenal Ilmu Agama, sehingga pelan-pelan mereka di ajarkan sampai mengerti.
“Semuanya pelan-pelan kita ajarkan,” ujarnya.
Al-Quran yang digunakan pun juga berbeda dari biasa, terdapat ilustrasi bahasa isyarat dalam Al-Quran tersebut yang memudahkan teman tuli untuk belajar mengaji isyarat yang benar.
Tenaga pengajar di yayasan ini terdiri dari delapan orang, yaitu empat pengajar laki-laki, dan empat pengajar perempuan. Romli menjelaskan bahwa awalnya tidak ada pengajar perempuan di yayasan ini karena sulitnya mencari tenaga pengajar yang bisa berbahasa isyarat sekaligus mau mengajar Al-Quran kepada para murid.
“Awalnya tidak ada pengajar perempuan, tapi alhamdullilah tahun ini Allah antarkan tenaga pengajar perempuan untuk murid perempuan,” tutur Romli.
Di bulan Ramadhan ini, Maktab Tuli As-Sami punya program “one day, one juz” yaitu murid-murid ditargetkan untuk bisa mengaji satu hari satu juz Al-Quran.
“Jadi kalau memang satu hari itu bisa satu juz alhamdullilah, tapi kalau tidak bisa, ngga apa-apa, kita beri semangat dan dorongan biar selalu ada progresnya,” jelas Romli.
Salah satu murid Maktab Tuli As-Sami, Danu (16) dari Kabupaten Ketapang menyampaikan bahwa ia sudah belajar di Maktab Tuli As-Sami dari awal Februari 2025 hingga sekarang.
“Rasanya sangat senang bisa belajar disini, saya dibantu guru-guru disini untuk bisa belajar Al-Quran Isyarat” jelasnya menggunakan bahasa isyarat.
Awalnya Danu mengaku sempat kesulitan untuk belajar Al-Quran dengan bahasa isyarat, bahkan tidak mengerti sama sekali, akan tetapi dengan ketekunan dan bimbingan dari guru akhirnya ia mengerti.
“Saya yakin saya bisa dengan latihan terus dan insyAllah saya juga mendapatkan pahala yang sama dengan orang biasa membaca Al-Quran” ujar Danu.
Keinginan yang kuat dari Danu dan semua murid Maktab Tuli As-Sami membuat mereka terus giat belajar ilmu agama, mulai dari Sholat, mengaji Al-Quran, Menghapal hadist, hingga berpuasa.
Keterbatasan mendengar dan berbicara tidak melunturkan semangat mereka untuk terus belajar seperti orang biasanya, memang seharusnya keterbatasan tidak menjadi akhir dari menuntut Ilmu.
“Saya ingin terus belajar dan istiqomah hingga akhir hayat saya,” tutup Danu.
Penulis: Meriyanti
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






