SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Gaza tak Cukup Gencatan Senjata

Gaza tak Cukup Gencatan Senjata

Ilustrasi – Genjatan Senjata di Gaza [int]

Oleh: Annisa

Kesepakatan gencatan senjata Gaza dan zionis yahudi, Israel terjadi pada Rabu malam(15/1), yang menurut tim mediator dari pihak Qatar, Mesir dan Amerika akan mulai berlaku pada hari Minggu (19/1) (voaindonesia.com, 17/1/2025).

Gencatan senjata dimulai dengan pembebasan sandera oleh hamas dan israel. Tiga orang sandera warga negara Israel telah dibebaskan oleh kelompok Hamas ke Palang Merah di Kota Gaza dan untuk 3 sandera warga israel, israel menjanjikan pembebasan 90 orang sandera Palestina sebagai gantinya (bbc.com, 21/1/25).

Setelah ditunda selama tiga jam karena pihak Israel mengklaim bahwa Hamas belum meirilis nama-nama sandera mereka, akhirnya pada Minggu (19/01) pukul 11:15 waktu setempat (16:15 WIB), gencatan senjata di Gaza dimulai (bbc.com, 21/1/25).

Di sisi Israel sendiri,kesepakatan gencatan senjata terancam batal karena terdapat penolakan gencatan senjata oleh partai kekuatan Yahudi ekstrem kanan yang mengumumkan akan meninggalkan pemerintahan Israel. Mereka tidak menyetujui gencatan senjata dan ingin terus melanjutkan operasi militer di Gaza.

Kekuatan dan Keteguhan Gaza

Israel dengan dukungan Amerika Serikat telah melakukan serangan brutal dan masif kepada warga gaza yang dimulai dari tanggal 7 Oktober 2023. Jumlah warga Gaza yang syahid diperkirakan mencapai 47.000 orang, bahkan jumlah ini bisa saja bertambah sebab masih banyak warga yang terkubur direruntuhan.

Kita menyaksikan betapa kekuatan dan keteguhan warga gaza selama aksi biadab israel terhadap mereka. Mereka tetap bertahan dengan penuh keimanan dan menolak untuk meninggalkan Gaza. Padahal segela penderitaan telah mereka dapati, mulai dari kesulitan air bersih, keterbatasan makanan hingga kelaparan, kedinginan dan kepanasan hidup dalam tenda pengungsian sampai pemboman brutal yang dilakukan zionis yahudi.

Sungguh gencatan senjata ini hadir karena kekokohan iman dan keteguhan sikap warga Gaza atas tanah miliki kaum muslimin, bukan karena tekanan Amerika Serikat atas Israel.

Gencatan Senjata bukan solusi

Hamas dan Israel sebelumnya telah mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata pada rabu 15 Januari 2025, namun beberapa jam setelahnya, pada Kamis 16 Januari, Israel kembali melancarkan serangan keji yang membuat syahid 82 orang warga Gaza (viva.co.id, 16/1/2025).

Hal ini menjadi bukti bahwa mudah saja bagi zionis yahudi, Israel untuk mengkhianati atau mempermainkan kesepakatan yang telah dibuat. Pihak israel sengaja memanfaatkan detik-detik menjelang pemberlakukan gencatan senjata untuk memaksimalkan pembantaian terhadap muslim Gaza

Walaupun menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia, gencatan senjata di Jalur Gaza merupakan sebuah pencapaian yang bagus. Dengan adanya gencatan senjata, bantuan kemanusiaan bisa masuk, proses rekonstruksi Gaza akan bisa dilaksanakan, dan menghentikan jatuhnya korban.

Meski begitu beliau merasa pesimis bahwa israel akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata tersebut. Sebab tujuan israel sesungguhnya adalah menguasai wilayah Palestina secara menyeluruh termasuk Gaza, sehingga sulit bagi israel untuk keluar dari Gaza. Ditambah keberadaan Hamas di Gaza akan terus menjadi ancaman bagi israel.

Selain itu, israel juga berkeinginan untuk mewujudkan pemerintahan tidak islamis di Gaza yang sejalan dengan kepentingan israel. Masalahnya Israel mengajak Fatah memerintah di Gaza, namun Fatah sudah bersepakat membentuk pemerintahan sendiri.

Pengamat hubungan internasional di Universitas Diponegoro Mohamad Rosyidin mengatakan hal yang senada dengan pengamat sebelumnya. Beliau pesimis gencatan senjata ini berjalan sesuai kesepakatan dan Israel tidak pernah mau menerima solusi dua negara yang ditawarkan.

Solusi dua negara pun sejatinya bukan solusi karena hanya menjadi pengakuan atas penjajahan zionis yahudi, israel atas tanah palestina. Begitu pula dengan gencatan senjata yang diberlakukan hanya menjadi jeda namun tidak mampu menghilangkan penjajahan yang telah terjadi puluhan tahun lamanya.

Solusi hakiki

Solusi tuntas atas Palestina adalah melaksanakan jihad melawan entitas Yahudi. Wajib bagi kaum muslimin seluruh dunia untuk menyeru kepada para penguasa nuslim agar menggerakkan pasukannya berjihad melawan Zionis. Semua itu hanya dapat terwujud dalam komando Khilafah. PBB mustahil menghimpun tentara muslim untuk membebaskan Palestina, sebab kita tahu keberpihakan PBB kepada AS sebagai polisi dunia.

Khilafah juga akan melakukan pembelaan dan pembebasan atas tanah dan kaum muslim di Palestina dan juga semua wilayah. Tidak hanya kaum muslim Palestina yang akan terbebas dari penganiayaan, tetapi juga muslim Uighur di Xinjiang Cina, muslim Rohingya di Myanmar, muslim Kashmir di India, muslim Moro di Filipina, muslim Patani di Thailand, dan lainnya.

Khilafah juga akan mengeluarkan kaum muslim di seluruh dunia dari keterpurukan ekonomi, kebodohan, dan penderitaan-penderitaan lainnya. Khilafah adalah raa’in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi seluruh umat Islam. Terlibat dalam aktivitas memperjuangkan penegakan Khilafah adalah wajib bagi kaum muslim.

Perlu ada upaya serius dan sungguh-sungguh untuk mendakwahkan pemahaman Islam yang benar atas solusi Palestina agar umat bisa bersatu untuk menyerukan jihad dan menegakkan Khilafah. Sehingga umat tidak mengambil solusi dari Barat, semisal solusi dua negara.

Lebih dari itu semua, perlu disadari bahwa pertolongan dan kemenangan itu datangnya dari Allah, maka kaum muslimin harus menempuh perjuangan pembebasan Palestina sesuai tuntunan Allah dan contoh Rasulullah, yakni berupaya mendakwahkan solusi hakiki pembebasan Palestina dengan jihad dan khilafah.

*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalbar 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan