SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Ahli ITB Ungkap Potensi Bioetanol sebagai Energi Terbarukan Pengganti Bahan Bakar Fosil

Ahli ITB Ungkap Potensi Bioetanol sebagai Energi Terbarukan Pengganti Bahan Bakar Fosil

Kijang Innova hybrid yang menggunakan energi bioetanol pada area fasilitas manufaktur Toyota di Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/9/2024). (ANTARA)

Jakarta (Suara Kalbar)- Ahli Proses Konversi Biomassa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ronny Purwadi, menyatakan bahwa penggunaan energi baru terbarukan (EBT), khususnya bioetanol, merupakan langkah penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Menurutnya, transisi ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sangat dibutuhkan guna menjaga stabilitas energi dan mengurangi dampak perubahan iklim.

“Supaya tidak menjadi panas, gas rumah kacanya harus dibatasi, maka penggunaan bahan bakar fosil ini harus dikurangi. untuk menjaga stabilitas kebutuhan bahan bakar maka harus ada energi baru yang siklusnya lebih cepat, yaitu EBT,” katanya melansir dari ANTARA, Jumat(06/09/2024).

“EBT itu banyak tetapi penggunaan bahan bakar fosil paling banyak di sektor transportasi,” tambahnya.

Saat ini, sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia. Pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil, termasuk penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit.

Namun, Ronny menegaskan bahwa bioetanol dapat menjadi solusi yang lebih relevan karena dapat menggantikan bensin, yang merupakan bahan bakar utama bagi sebagian besar kendaraan di Indonesia.

“EBT sudah banyak ada geotermal, ada energi nuklir, ada energi surya, lalu kenapa harus biofuel? Bahwa kendaraan kita itu hampir seluruhnya menggunakan bensin. Kalau mau diganti dengan EV (kendaraan listrik) berarti kita harus buang semua mobil, kita ganti baru dengan EV,” ujar Rony.

Menggunakan bioetanol memiliki berbagai manfaat, termasuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendukung ketahanan energi nasional.

Kelebihan bioetanol lainnya, yakni masih dapat digunakan pada kendaraan yang biasa menggunakan bensin.

Selain itu, bioetanol dapat memanfaatkan limbah organik dan mendorong perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Dengan pengembangan teknologi bioetanol yang terus berlanjut, diharapkan bioetanol dapat menjadi solusi yang lebih luas dan efektif dalam mengatasi tantangan energi dan perubahan iklim di Indonesia.

“Jadi kita memang harus membuat biofuel yang masih kompatibel dengan kendaraan kita yang ada sekarang ini. Upaya untuk menggantikan sebagian bensin ini, dengan bahan-bahan yang kompatibel salah satunya itu adalah bioetanol,” imbuh Rony.

Bioetanol, yang dihasilkan dari bahan baku seperti gula dan pati, menawarkan energi yang lebih tinggi dibandingkan bensin. Meskipun bioetanol dapat diproduksi dari bahan baku pangan dan non-pangan, seperti jagung dan singkong, produksinya masih terbatas.

Hingga saat ini, bioetanol hanya digunakan sebagai campuran E05 di Jakarta dan Surabaya, sementara kebutuhan bensin nasional mencapai 29 juta kiloliter per tahun, ungkap Rony.

Produksi bioetanol di Indonesia, yang saat ini baru mencapai 34.500 kiloliter, masih jauh dari mencukupi kebutuhan pasar. Hal ini, lanjut Rony, menunjukkan perlunya percepatan pengembangan bioetanol untuk memenuhi target bauran energi terbarukan yang ditetapkan pemerintah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan