Mitigasi Perubahan Iklim, ICRAF Indonesia Gelar Diskusi Pengelolaan Lahan Gambut
Pontianak (Suara Kalbar)- ICRAF (International Center for Research in Agroforestry) Indonesia menggelar kegiatan acara Bincang Iklim dengan tema “Pahlawan Gambut Masa Depan” di salah satu hotel yang ada di Kota Pontianak Rabu, (21/8/2024).
Kegiatan ini menjadi wadah diskusi tentang model pendidikan lingkungan sejak dini dan pengelolaan lahan gambut, yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan ICRAF (International Center for Research in Agroforestry).
Maike Elizabeth Lorenz, perwakilan dari Kedutaan Besar Jerman, mengungkapkan peran penting pengelolaan gambut dalam mitigasi perubahan iklim.
“Saya sudah pernah mengunjungi program ICRAF di Sumatera Selatan, dan ini adalah kedua kalinya saya melihat proyek mereka. Jika tidak dikelola dengan baik, gambut bisa melepaskan banyak emisi karbon yang menimbulkan masalah besar bagi iklim,” jelas Maike.
Selain itu, Ia juga menekankan bahwa Jerman mendukung program pengelolaan gambut di Indonesia dan negara lain karena perubahan iklim adalah isu global yang memerlukan aksi bersama.
Asisten Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ignasius IK mewakili Pj Gubernur Kalbar mengatakan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini.
“Kegiatan ini menjadi sangat penting sebagai upaya kita mendorong anak-anak sejak dini agar mengetahui bagaimana cara menjaga ekosistem gambut,” katanya.
Dalam kegiatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, menyampaikan rencana untuk memperluas program pendidikan lingkungan terkait gambut.
“Ini hanya sebagai demplot di Kubu Raya, ke depan muatan lokal ini akan kita tindak lanjuti ke kabupaten dan kota yang berada di pesisir. Pesisir adalah tempat keberadaan gambut dan mangrove di Kalimantan Barat,” ujarnya.
Koordinator program Peat-Impacts Indonesia, Feri Johana, menambahkan bahwa kegiatan ini didukung oleh pemerintah federal Jerman dan difokuskan pada pengelolaan gambut berkelanjutan di dua provinsi, yaitu Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.
“Di Kalbar, kami mengembangkan kebijakan terkait perencanaan perlindungan ekosistem gambut, serta kegiatan di enam desa yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem gambut,” jelasnya.
Feri juga menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan gambut, dimulai dari tingkat dasar.
Proyek Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia (Peat-IMPACTS Indonesia) dilaksanakan World Agroforestry Centre (ICRAF) selama empat tahun (2020-2024), di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.
Berfokus pada restorasi, pengelolaan, dan perlindungan lahan gambut untuk secara langsung berkontribusi pada NDC Indonesia dan tujuan pembangunan jangka menengah, proyek ini didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jerman melalui Inisiatif Iklim Internasional (BMU-IKI).
Salah satu intervensi inovatif proyek Peat-IMPACTS adalah pendekatan ‘Manajemen Pengetahuan,’ yang mengintegrasikan pengetahuan dan praktik terbaik terkait lahan gambut ke dalam muatan lokal kurikulum sekolah di Kabupaten Kubu Raya. Muatan lokal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang pentingnya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan lingkungan gambut dan mangrove sejak dini.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






