Program Gerakan Petani Organik Muda Atasi Krisis Regenerasi Petani di Kalimantan
Pontianak (Suara Kalbar)- Organis Indonesia, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, YSDK Kalimantan Barat, dan Yayasan PRCF Indonesia berkolaborasi melaksanakan Diskusi Grup Terfokus atau Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Petani Organik Muda sebagai Pilar Utama Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim” secara hybrid di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Kamis (27/6/2024).
Dihadiri sebanyak 60 orang peserta dan 40 peserta yang bergabung daring. Peserta yang hadir adalah mahasiswa, para akademisi, dan perwakilan NGO serta petani dampingannya di Kalimantan Barat.
Diskusi ini menghadirkan lima narasumber kunci antara lain Prof. Dr. Ir. Denah Suswati, MP. IPU (Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura), Anton Kamaruddin, S.P., M.Si., (Kepala Pengawasan dan Sertifikasi Benih, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat), Marcell D.Lodo (Direktur YSDK Kalimantan Barat), Rio Afiat (Manajer Program “Rimba Pakai Pengidup” PRCF Indonesia), dan Sukmi Alkausar (Direktur Aliansi Organis Indonesia).
“FGD bertujuan untuk menghimpun beragam perspektif dan menghasilkan narasi yang lebih lengkap untuk mendorong generasi muda mengambil peran dalam seluruh spektrum pertanian yang berkelanjutan,” ujar Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Prof. Dr. Ir. Denah Suswati, MP. IPU.
Dia menjelaskan dalam lingkup regenerasi petani muda di Kalimantan Barat, para pembicara kunci menyoroti dua hal yang menjadi faktor penghambat. Pertama, pola pikir pemuda terhadap pertanian yang miskin dan kotor, kedua pengetahuan yang masih terbatas mengenai pertanian organik.
Dalam pemaparannya, Dekan Fakultas Pertanian Unversitas Tanjungpura mengulas perbedaan mendasar praktik pertanian konvensional dengan pertanian organik adalah fokus pada pencapaian produksi daripada keberlanjutan.
“Kedepan pertanian konvensional mudah-mudahan bisa ditinggalkan karena tidak berkelanjutan dan ketergantungan dengan input dari luar. Kita harus menyadari praktik ini betapa merugikan bagi kesehatan dam lingkungan,” kata Prof. Dr. Ir. Denah Suswati, MP. IPU.
Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura melihat ada peluang ekonomi besar bagi petani muda organik di Kalimantan. Ia mendorong anak muda mendalami budidaya komoditas andalan Kalimantan seperti mangga, durian, alpukat lilin Singkawang, dan yang RILIS MEDIA terkini budidaya anggur.
Menurutnya, komoditas ini sangat menjanjikan secara nilai ekonomi karena kualitasnya sudah diakui di pasar dunia. Semua komoditas ini tidak hanya memberi nilai ekonomi tapi juga memiliki nilai konservasi dan kelestarian lingkungan.
“Kita harus bisa menjaga komoditas andalan kita sekaligus berkontribusi dalam konservasi sebagai cadangan karbon,” kata dalam sesi presentasi FGD.
Beberapa organisasi masyarakat sipil di Kalimantan Barat telah melakukan upaya untuk mendorong regenerasi petani.
Melalui program Pengelolaan Gambut dari LEISA menuju Pertanian Organik yang Tangguh Iklim dan Berkelanjutan, YSDK Kalimantan Barat memulai kaderisasi petani dari tingkat keluarga.
Subroto, satu diantara petani pengelola lahan gambut yang hadir dalam diskusi ini. Dengan semangat ia mengajak kaum muda untuk terjun menjadi petani demi keberlanjutan pertanian di Kalimantan. “Perlu diberikan kesadaran bagi kaum muda bahwa petani adalah pekerjaan yang mulia,” katanya.
Menyambut semangat tersebut, Rio Afiat, Manajer Program PRCF Indonesia juga menekankan.
“Tujuan besar kita adalah bagaimana masyarakat bisa sejahtera dan hutan tetap terjaga dengan baik. Tentu untuk mewujudkan ini kita perlu bekerjasama secara pentahelik melibatkan pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, media, dan masyarakat,” pungkasnya.
FGD ini menjadi kesempatan khusus bagi AOI untuk mengajak kaum muda di Kalimantan bergabung dalam Program Organic Youth Movement. Program ini merupakan upaya kolaboratif yang diinisiasi AOI untuk menciptakan regenerasi petani organik muda di Indonesia.
Sukmi Alkausar, Direktur AOI menyampaikan bahwa Program Organic Youth Movement (OYM) erat berkaitan dengan wirausahawan muda pertanian organik, baik hulu maupun hilir.
“Saat ini, kami dalam tahap sosialisasi dan akan dilanjutkan dengan bootcamp. Harapannya, petani muda dapat mengembangkan bisnis organik melalui kerjasama dengan inkubator pertanian,” jelasnya.
Diskusi pun berkembang dari para peserta yang hadir. Mulai dari praktik-praktik pertanian organik yang perlu edukasi lebih luas, dukungan konkret dari semua pihak untuk kaum muda, hingga persoalan konflik kepemilikan lahan yang berlarut-larut menjadi tiga hal yang dianggap perlu menjadi pekerjaan rumah semua pihak.
Tantangan tersebut justru mendorong multipihak yang hadir bersepakat untuk berkolaborasi menciptakan kampanye dan dukungan konkret kepada kaum muda agar terjun dalam pertanian.
Forum ini ditutup dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara AOI dan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Kolaborasi ini terwujud karena adanya visi yang sama untuk mewujudkan regenerasi petani muda yang memiliki pengetahuan berbasis iklim untuk masa depan kedaulatan pangan Indonesia.
“Tentang Program Organic Youth Movement (OYM) OYM merupakan program yang diinisiasi oleh AOI untuk menginspirasi dan memberdayakan generasi muda terlibat dalam seluruh spektrum pertanian organik dan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. OYM meyakini petani muda sebagai ujung tombak kedaulatan rilis media pangan di Indonesia dan dunia,” pungkasnya.
AOI akan melaksanakan rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas bagi kaum muda yang tertarik menjadi petani organik, produsen olahan produk organik, dan peran lain dalam sektor pertanian organik.
Pengembangan kapasitas tersebut antara lain melalui berbagai pelatihan, pembekalan, mentoring, magang, inkubasi bisnis, dukungan peralatan, dan forum aktif yang dapat mendorong kaum muda menjadi petani masa depan.
Tentang Aliansi Organis Indonesia (AOI) Aliansi Organis Indonesia (AOI) adalah organisasi masyarakat sipil yang berbadan hukum perkumpulan, bersifat non-profit, dan independen yang bertujuan untuk memperkuat dan memajukan gerakan pertanian organik dan perdagangan adil (fair trade) di Indonesia.
Secara khusus aktif bergerak dalam pemberdayaan petani kecil melalui penguatan kapasitas kelembagaan, manajemen mutu produksi, pengembangan pasar, hingga advokasi pertanian organik di daerah dan nasional.
Berdiri pada 2002, AOI kini memiliki 126 anggota dengan beragam latar belakang antara lain kelompok tani, produsen, Non-Governmental Organization, private sector, akademisi, dan aktivis yang memiliki komitmen dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.
Anggota AOI saat ini tersebar di 20 provinsi di Indonesia antara lain region Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






