Harga TBS Sawit Kalbar Naik ke Rp2.524,66/kg

Ilustrasi - TBS Sawit saat diangkut kendaraan dari kebun. SUARAKALBAR.CO.ID/Int

Pontianak (Suara Kalbar)- Harga sawit di Provinsi Kalimantan Barat terus menunjukkan tren perbaikan. Terbaru, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit untuk Periode I Juni 2024 telah mencapai rata-rata Rp2.524,66 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar Rp44,48 per kilogram dari periode sebelumnya.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Heronimus Hero, menjelaskan bahwa penetapan harga TBS sawit dilakukan empat kali dalam sebulan sesuai Pergub 86 Tahun 2022.

“Saat ini secara rata-rata harga TBS sawit ditetapkan sebesar Rp2.524,66/kg atau naik sebesar Rp44,48/kg dari periode sebelumnya. Penetapan Harga TBS sawit ini dilaksanakan sebanyak empat kali dalam sebulan sebagaimana diamanatkan dalam Pergub 86 Tahun 2022,” ujarnya melansir dari ANTARA, Sabtu(8/6/2024).

Ia menjelaskan untuk harga TBS sawit tertinggi sendiri untuk umur 10 sd 20 tahun ditetapkan sebesar Rp2.661,65/kg atau naik Rp47,01/kg.

“Sedangkan harga TBS sawit terendah pada umur 3 tahun sebesar Rp1.985,99/kg naik sebesar Rp34,48/kg dari periode sebelumnya,” kata dia.

Sementara untuk harga CPO atau minyak sawit mentah pada Periode I Juni 2024 ditetapkan sebesar Rp11.985,26/kg atau naik sebesar Rp283,15/kg.

“Sedangkan harga inti sawit atau PK ditetapkan sebesar Rp6.851,99/Kg turun sebesar Rp180,50/Kg,” kata dia.

Menurut dia, penetapan harga TBS sawit Periode I Juni 2024 berdasarkan perhitungan harga rata-rata realisasi kontrak penjualan CPO dan PK (FOB Kalbar Exc PPN) periode 23 – 31 Mei 2024.

“Realisasi total volume kontrak penjualan CPO pada periode ini sebesar 53.955 ton dan naik 26 persen dibanding periode sebelumnya. Sementara 70 persen di antaranya terjadi pada akhir periode dengan harga rata-rata sebesar Rp12.000/Kg,” kata dia.

Untuk harga referensi CPO pada KPBN FOB Dumai/Belawan mulai membaik pada akhir periode dengan harga tertinggi sebesar Rp12.722/Kg.

Ia mengatakan naik dan turunnya harga TBS sawit mirip dengan komoditas lainnya. Faktor yang mempengaruhi faktor permintaan CPO dunia.

“Harga CPO di Kalbar tergantung CPO dunia. Sementara CPO di pasar dunia dipengaruhi isu UU anti defortasi. Tapi kalau jelas asal dan tidak merusak hutan itu harga relatif tinggi. Untuk kita agar kebunnya terdaftar dan standar ISPO. Sehingga hal itu bisa menjamin harga kita terus baik,” kata dia.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS