Landak  

Kasus DBD di Landak Capai 146, 9 di Antaranya Meninggal Dunia

Kondisi RSUD Landak

Landak ( Suara Kalbar )- Kasus Demam Berdarah (DBD) di kabupaten Landak kian meningkat, Per 8 November 2023 tercatat 146 kasus dengan 9 kasus kematian.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Landak melalui Sekretaris Dinas Kesehatan Landak, dr. Pius Edwin yang dihimpun jurnalis IWO (Ikatan Wartawan Online) tercatat ada 500 kasus DBD, dengan sebaran 141 kasus di Kecamatan Ngabang, 84 kasus di Kecamatan Manyuke, 60 kasus di Kecamatan Sengah Temila, 51 Kasus di Kecamatan Mempawah Hulu dan di kecamatan Sompak 3 kasus.

Tingginya kasus tersebut juga dibarengi dengan adanya isu di media sosial yang mengatakan bahwa RSUD Landak mulai kekurangan tempat tidur untuk penanganan di IGD. Isu tersebut disikapi team jurnalis IWO Landak dengan melakukan liputan langsung ke RSUD Landak, Selasa pagi 10.00 wib (21/10/2023).

Namun sayang, saat dikonfirmasi secara langsung, Humas RSUD Landak yang melalui pesan singkat whatsapp hanya menjelaskan bahwa dirinya sedang menghadiri rapat koordinasi di Dinas Kesehatan Landak terkait penanganan DBD. Demikian pula dengan Direktur RSUD Landak, yang mengkonfirmasi dirinya juga sedang rapat koordinasi penanganan DBD di Dinkes Landak.

“Untuk terkait DBD boleh koordinasi dengan pak kadis, ” ujar dr. dr. Albertus Geovani, PLT Direktur RSUD Landak.

Sementara itu, berdasarkan penelusuran langsung team jurnalis IWO di unit IGD, memang terlihat kondisi tempat tidur yang kurang dan ada tambahan beberapa tempat tidur di koridor ruang IGD. Sedangkan pasien yang datang tertangani dengan cukup baik.

Pada kesempatan selanjutnya, IWO Landak mencoba mengkonfirmasi Dinas Kesehatan kabupaten Landak, Subandri, namun tidak kunjung mendapat respon dari yang bersangkutan.

Berbeda dengan Kadiskes Landak, Sekertaris Dinkes, Landak, dr.Pius Edwin, justru merespon dan menjelaskan bahwa saat ini yang sedang dilakukan adalah menggencarkan sosialisasi 3M plus di Puskemas-puskesmas, 3M plus yang dimaksud yaitu; menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang berbagai tempat yang dijadikan tempat berkembang biak nyamuk.

“Upayakan yang terus dilakukan menggencarkan sosialisasi 3M plus di tiap puskesmas, menggalakkan Jumat Bersih di desa-desa, dan RSUD menyiapkan kasur tambahan dari BPBD” ujar Pius.

Selanjutnya Pius mengajak semua warga untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya untuk mencegah hidup dan berkembangnya Nyamuk pembawa DBD.

“Yang paling terpenting adalah menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, melakukan penyemprotan, menggunakan anti nyamuk yang dibakar atau elektrik, menggunakan lotion anti nyamuk. Lingkungan kita harus bersih dan nyamuk tidak akan berkembang. Percuma minta fogging tapi lingkungan tidak bersih” himbau dr.Pius.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS