SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Kapan Bebas dari Kebakaran?

Kapan Bebas dari Kebakaran?

Karhutla

Oleh: Chatarina Pancer Istiyani

Kali ini adalah patroli karhutla ketiga yang saya ikuti. Patroli pertama hari Selasa, 8/8 menuju ke selatan dengan rute: Mekar Sari 1 (Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya), Sungai Asam (Kubu Raya), Meliau (Sanggau), Simpang Hulu dan Simpang Hilir (Ketapang), Teluk Batang (Kayong Utara), dan ke Batu Ampar (Kubu Raya) . Kali kedua, 9/8 kami menuju ke utara dengan rute: Madusari, Sungai Kakap (Kubu Raya), Batu Layang (Kota Pontianak), Mempawah Hilir (Mempawah), Kuala (Kota Singkawang), Paloh (Sambas), Samalantan (Bengkayang), Menjalin (Landak), dan Sungai Ambawang (Kubu Raya). Kali ini 12/8 ke arah timur dengan rute Sungai Raya (Kubu Raya), Tayan Hilir (Sanggau), Sekadau Hulu (Sekadau), Sepauk (Sintang), dan terakhir ke arah pulang Pontianak melalui Terentang (Kubu Raya).

Hari ini, seperti dua kali patroli sebelumnya, saya bersama Lufti Faurusal Hasan Ketua Komisi Informasi Provinsi Kalimantan Barat menyaksikan titik api-titik api baik dari yang kecil hingga yang besar. Titik api yang kecil terdapat di hampir semua kabupaten. Saya katakan kecil karena hanya sisa bakar yang asapnya tipis saja. Tampak titik-titik api ini ada di perkebunan kelapa, mungkin orang membakar batok kelapa. Ada juga di kebun-kebun milik pribadi yang tidak luas, kira-kira hanya di bawah 2 hektar.

Namun jika dilihat lahan dan hutan bekas bakar ada banyak dan semua kabupaten ada lahan bekas bakarnya. Tentu saya tidak tahu pasti siapakah pemilik lahan bekas bakar. Jika dilihat dari tempat-tempat bekas bakar itu, kebanyakan di lereng-lereng bukit. Bekas bakar itu tidak luas, rata-rata sekitar 2 hektar. Namun ada juga yang dekat sekali dengan kebun sawit. Saya pun dalam hati bertanya, apakah ini kebun sawit punya perusahaan (besar) atau punya masyakarat, atau punya perusahaan lokal?

Pesawat PK-CDP Bell 206 yang kami pakai kali ini tidak ada media komunikasi antara penumpang dengan kapten dan HLOnya. Sehingga kami tidak bisa komunikasi dengan Kapten Andre Christian dan Temy. Gadget yang saya pegang pun kurang bisa memberikan informasi alamat secara tepat. Hanya ada informasi titik koordinat saja. Karena tidak bisa komunikasi dengan Kapten dan HLOnya, saya tidak mendapat info dari mereka bahwa ada asap di depan sana. Oleh karena itu saya terus-menerus melihat dengan secermat-cermatnya adakah titik apinya?

Jika tidak ada alamat yang muncul di gadget berGPS kami, yang penting ada titik koordinatnya. Menurut Kapten Andre Christian, setelah kami landing, informasi alamat memang susah jika terbang ke arah Sangau, Sekadau, Sintang. Karena bergunung-gunung dan tidak ada sinyal. Sementara dalam patroli ketiga ini saya sempat melihat ada 3 titik api yang dapat dikatakan medium: asapnya lumayan tebal dan masih ada api menyala namun area terbakar relatif tidak luas. Ini sekitar Meliau (Sanggau). Sedangkan titik api yang besar ada di Sungai Raya (Kubu Raya). Selagi saya masih di dalam kabin Helikopter PK-CDP Bell 206, saya mendapat informasi dari Kepala BPBD Kalimantan Barat, Ansfridus, bahwa water bombing menuju ke lokasi karhutla Sungai Raya Kubu Raya.

Setelah turut patroli karhutla hingga tiga kali, muncul pikiran yang terus menguntit, mengapa selalu terjadi kebakaran di Kalbar ini setiap tahunnya pada musim panas? Saya jadi ingat sewaktu briefing tadi pagi jam tujuh, sebelum patroli dinyatakan oleh analis kebencanaan, Tugiyanto bahwa beberapa waktu lalu titik api hingga mencapai seribu sekian. Lalu pada 11 Agustus tinggal 276. Jika yang 800-an itu sudah padam, kemungkinan besar adalah pembakaran lahan oleh masyarakat yang dijaga dan dilakukan dengan kearifan lokal, membuat parit sehingga api tidak menjalar ke mana-mana. Selain itu, lahan mereka bukan di lahan gambut. Dengan demikian, sisanya yang masih menyala itu logikanya bukan punya masyarakat dan sebagian besar lahan gambut. Ini yang susah dipadamkan.

Pikiran saya pun menyelidik, lalu mengapa lahan gambut ini terbakar? Tugiyanto menyatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang ada sebagian besar dikarenakan ulah manusia. Sangat sedikit yang karena alam. Nah! Kalau dah begini, saya pun bertanya-tanya apakah masyarakat mengerti dan paham tentang seluk-beluk bencana karhutla (terutama yang lahan gambut)?

Pada area bukit yang bukan gambut, masyarakat berkebun untuk hidup, maksimal 2 hektar. Apakah mereka mempunyai aturan yang ditentukan terkait pembersihan lahan dengan membakarnya? Tentang cara membakar mungkin sudah, bagaimana dengan tentang waktu dan jumlah area yang mau dibersihkan dengan cara dibakar, apakah juga ditentukan secara bijak?

Kalau terjadi kebakaran, berbagai upaya sudah dikerahkan. BPBD yang memainkan peran sentral melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni dari DLHK, Dinas Perkebunan, Brigade Dalkarhutla dari KPH-KPH, pihak swasta, LSM, dan masyarakat lokal bahu-membahu turut memadamkan api.

Ketika saya menyoal mengapa dari tahun ke tahun selalu saja ada kebakaran, terutama di lahan gambut? Apakah telah dilakukan penelitian yang lebih baik dari tahun ke tahun? Aulia dari BMKG menyampaikan bahwa BRIN telah meneliti kedalaman gambut dan jumlah air yang mesti disuntikkan jika terjadi kebakaran. Agaknya, upaya penelitian dan tanggap darurat bencana telah dilakukan seoptimal mungkin. Satgas karhutlah tentu sudah dibentuk dan bekerja optimal juga.

Namun pikiran saya terus menerbitkan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tidak ada habisnya. Apakah perlu muatan lokal kebencanaan di sekolah-sekolah? Apakah perlu dilakukan penelitian yang lebih besar dan canggih dengan menggandeng pihak-pihak yang mungkin lebih kompeten. Apakah ada teknologi dari negara maju yang bisa mencegah atau menangani karhutla dengan lebih baik?

Pada sisi lain, pertanyaan juga muncul, berapa biaya yang bakal diperlukan? Tentu tidak sedikit. Yang jika tidak ada kebakaran, mungkin dana itu bisa untuk hal lain yang menyejahterakan masyarakat. Bahkan pikiran saya sampai pada apakah perlu dilakukan ritual-ritual masyarakat adat untuk minta hujan, doa-doa dari para tokoh agama agar masyarakat dan pihak mana pun semakin sadar dan hati-hati dengan kegiatan-kegiatannya yang berkenaan dengan hutan dan lahan. Bahkan terpikir apakah perlu mengerahkan pawang hujan? Pikiran-pikiran itu muncul karena ada harapan yang besar … Kapan Bebas dari Kebakaran?

* Penulis adalah  Sekretaris 2 Forum Daerah Aliran Sungai (ForDas) Provinsi Kalbar

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan