Uniknya Gaya Kuliah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Untan, Belajar di Ruang Terbuka Nikmati Estetika Rusunawa

Foto bersama Mahasiswa dan Dosen ilmu Politik FISIP usai kegiatan perkuliahan di Ruang Hijau Area Rusun Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Kalbar, Kamis (25/5/2023). SUARAKALBAR.CO.ID/Foto. Istimewa

Pontianak (Suara Kalbar) – Perkuliahan yang unik dilakukan para mahasiswa yang tergabung dalam mata kuliah komunikasi politik dalam program studi ilmu politik FISIP Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Kalimantan Barat.

Kenapa disebut unik? Sebab para mahasiswa Fisip yang diampu oleh Firdaus ini melaksanakan perkuliahan dengan cara belajar sembari menikmati estetika Rusunawa Untan.

Tentunya bagi mahasiswa hal ini berbeda pada biasanya, sehingga cara belajar seperti itu dapat mereka katakan tidaklah membosankan melainkan menghirup udara segar dan membuka pikiran baru.

Pertama tujuan belajar di ruang hijau itu adalah manifestasi dari Kampus Merdeka, kelasnya pun sudah merdeka dan tempat-tempatnya juga positif, selain itu sehat seperti di area Rusun Mahasiswa Untan ini.

“Apabila di luar kelas itu ada imajinasi dan inovasi yang dilihat mahasiswa Fisipol, dengan adanya kampoengpreneur atau kewirausahaan. Jadi mahasiswa bisa mempelajari aspek ekonomi dalam kolaborasi,” ujar Firdaus, Dosen Pengampu Komunikasi Politik Fisip Untan, Kamis (25/5/2023).

Ia menyebut dengan kolaborasi mahasiswa seharusnya bisa membuat karya yang berbeda, apalagi kedepannya pihak kampus memang akan menggiatkan eksperimen positif dalam pengembangan bakat mahasiswa.

“Jadi kita harapkan mahasiswa dapat menjadi sosok-sosok yang tangguh dalam menghadapi dunia digital atau pembaharuan, serta mampu melihat dunia luar ataupun di lapangan bahwa ada banyak bahan belajar disana,” katanya.

Sebagai faktor pendukung di Untan, Firdaus mengatakan ada RPS sebagai proyeksi, bisa dikelas dan di lapangan sehingga menariknya lagi Sistem RPS ini bisa dilapangan.

“Jadi sistem seperti ini harus kita galakan, sehingga mahasiswa bisa inovatif dan ber kolaboratif,” ujar Firdaus lagi.

Sedangkan Dedek Purwansyah Founder Pesona Kalbar Hijau, pemilik gerai pusat laboratorium pemasaran dan juga gerai pondok literasi kopi di lokasi tempat mahasiswa belajar, turut berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Dedek yang mengangkat komunitas lokal mengakui tantangan yang tidak mudah karena merintis usaha yang dihasilkan dari skenario berbeda dengan bisnis kreatif.

Yaitu, perpaduan antara skema proteksi dan produksi, ada yang dipertahankan dan ada juga yang dijadikan nilai ekonomi.

Dedek Purwansyah menyatakan dengan melibatkan semua pihak dan kehadiran kampoengpreneur diharapkan dapat menggerakkan mahasiswa sebagai literasi bahwa produk lokal itu tidak kalah pesaingnya dengan pasar lainnya.

“Tetapi kenapa kita hari ini malu dengan buatan lokal? Harapan kita teman-teman pemain kopi dapat melirik Kalbar yang terkenal dengan potensi pasar kopi, sehingga dapat direalisasikan dengan petani dalam pemberdayaan masyarakat agar berdampak baik secara sosiopreneur dengan konsep kolaborasi,” katanya.

Sedangkan Hernandes Tino Raut salahseorang mahasiswa ilmu politik yang mengikuti mata kuliah tersebut mengatakan bahwa para mahasiswa hadir sebagai wujud daripada merdeka belajar tentang Sosiopreneur.

“Dengan dihadirkan tamu yang ahli di bidangnya tentu kita sebagai mahasiswa seharusnya memiliki peranan dalam mendukung pembaharuan ekonomi berbasis digital dan penting pemberdayaan petani di masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS