Komitmen Bersama Turunkan Prevalensi Stunting di Singkawang

Rembuk Stunting yang digelar di Basement kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (17/5/2023).[MC Singkawang]

Singkawang (Suara Kalbar)– Rembuk Stunting yang digelar di Basement kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (17/5/2023) menjadi upaya menurunkan angka prevalensi Stunting di Kota Singkawang.

Mengangkat tema “Strategi Konvergensi Penanggulangan dan Pencegahan Stunting di Kota Singkawang”, kegiatan ini ditujukan untuk mencanangkan dan membangun komitmen bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan pembangunan SDM di Kota Singkawang. Hal ini ditandai dengan penandatangan aksi daerah penurunan stunting Kota Singkawang tahun 2023.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Singkawang Yulianus Anus mengatakan persoalan stunting bukanlah persoalan yang terjadi baru-baru ini. Namun, kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan bahaya stunting masih terbilang rendah sehingga diperlukan penguatan aksi daerah yang solutif.

“Anak-anak kita adalah masa depan bangsa. Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas Tahun 2045 kalau modal dasarnya, yaitu anak-anak bangsa menfalami stunting, terganggu perkembangan kognitif dan kesehatannya,” ujarnya, dalam keterangan tertulis diterima Suarakalbar.co.id, Jumat(19/5/2023).

Presiden RI telah menandatangani Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Perpres ini memberikan dasar hukum untuk melakukan penguatan kerangka substansi, intervensi, pendanaan, serta pemantauan dan evaluasi yang diperlukan dalam berbagai upaya percepatan penurunan stunting.

“Target kita sangat jelas. Substansinya mengadopsi strategi nasional percepatan penurunan stunting 2018-2024. Kita ingin menurunkan angka prevalensi stunting di bawah 14 persen pada tahun 2024,” terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Singkawang, dr. Alexander mengatakan hingga saat ini pihaknya telah melakukan berbagai kinerja dalam rangka percepatan penurunan angka stunting d Kota Singkawang.

“Diantaranya, Kampanye stunting, Pembagian bahan makanan tambahan bagi balita stunting, Rembuk stunting, Orientasi bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT),” ujarnya.

Sejauh ini, berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) tercatat sebanyak 12,18 persen atau 675 balita stunting di Kota Singkawang sampai dengan bulan Februari 2023.

“Semoga, kita dapat bersama-sama dalam penanganan stunting untuk mengejar target nasional tahun 2024 balita stunting tidak melebihi angka 14 persen,” harapnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS