Amerika di Mata Dua Cendekiawan Muslim Indonesia

  • Bagikan
Adi Hidayat menjadi imam salat Subuh dan berceramah di masjid komunitas Muslim Indonesia di kawasan Washington DC, Imaam Center. (Foto: VOA/Karlina Amkas)

Suara Kalbar – Lebih dari tiga minggu Oki Setiana Dewi berada di Amerika, sejak 18 Desember hingga 12 Januari. Ia memulai safari dakwahnya dari Washington DC, kemudian berkeliling Amerika, ke berbagai kota dan negara bagian.

“Saya mengisi pengajian serta mengunjungi sekolah Islam, masjid, komunitas muslim, dan juga bertemu international Islamic speakers.”

Oki mengaku senang karena telah bertemu orang-orang yang dinilainya luar biasa.

“Khusus Muslim Indonesia, saya takjub luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang punya background pekerjaan yang luar biasa dan juga background pendidikan yang luar biasa. Namun mereka adalah orang yang bersemangat untuk menjadi Muslim yang lebih baik dengan cara membentuk atau mengikuti komunitas-komunitas Islam dan bersemangat memberikan harta terbaiknya agar punya masjid sendiri atau punya tempat sendiri, bersemangat untuk mengaji atau belajar agama. Dan semangat itu tidak hanya untuk mereka tetapi untuk anak-anak mereka,” ujarnya.

Bersama cendekiawan lainnya, Adi Hidayat, Oki diundang oleh perkumpulan Muslim Indonesia, Indonesian Muslim Society in America (IMSA). Keduanya menjadi pembicara dalam muktamar IMSA di Boston akhir tahun lalu.

Perempuan memasuki Masjid Panita Amerika di pusat kota Los Angeles, California, 30 Januari 2015. Masjid pertama di Amerika Serikat yang didedikasikan khusus untuk perempuan. (Foto: REUTERS/Lori Shepler)
Perempuan memasuki Masjid Panita Amerika di pusat kota Los Angeles, California, 30 Januari 2015. Masjid pertama di Amerika Serikat yang didedikasikan khusus untuk perempuan. (Foto: REUTERS/Lori Shepler)

Presiden IMSA Aria Novianto menuturkan alasan mengundang Adi Hidayat yang biasa dikenal dengan singkatan UAH (Ustadz Adi Hidayat).

“Beliau sebagai seorang guru yang dicintai masyarakat dan juga dihormati oleh banyak ulama yang lain. Kami merasa sebagai organisasi dan juga individu, IMSA dan anggotanya bisa belajar banyak dari ilmu dan dakwah beliau,” ujarnya.

Ini merupakan kunjungan pertama UAH ke Amerika. Sedangkan bagi Oki Setiana Dewi, ini adalah kunjungan yang kedua setelah tahun 2021 juga datang ke muktamar IMSA.

“Beliau punya riwayat hidup yang sangat menarik bagi warga IMSA dan tentunya juga punya landasan ilmu Islam yang kuat. Alhamdulillah tahun ini beliau bisa datang lagi dan kemudian melanjutkan dengan safari dakwah ke berbagai kota di Amerika Serikat dan Kanada setelah Muktamar,” ujar Aria.

Seperti Oki, Ustadz Adi Hidayat pun melanjutkan kegiatan di Amerika dengan bersafari dakwah. Ia ke New York dan Washington, DC. Setelah lebih dari seminggu, ia menyimpulkan, “Di Amerika ini, sistem bagus. Settled. Tapi, nilai di sistem ini, tidak diturunkan kepada person sehingga setiap orang bebas melakukan apapun sepanjang tidak mengganggu orang lain. ”

“Di Islam, itu dibalik, dimulai dari personalnya: perbaiki diri, kondisikan diri, bersikap lebih baik, ini yang boleh dilakukan, ini yang jangan dilakukan karena bisa mengganggu orang lain… Baru di situ diterapkan dalam konteks komunal berkehidupan sehingga antara sistem dan person berjalan bersamaan. Konteks universalnya adalah ada keseimbangan antara kehidupan personal dan kehidupan komunal,” lanjutnya.

Pemandangan di Pennsylvania Avenue di sekitar Capitol Hill di Washington, Jumat, 15 Januari 2021. (Foto: AP)
Pemandangan di Pennsylvania Avenue di sekitar Capitol Hill di Washington, Jumat, 15 Januari 2021. (Foto: AP)

Di alun-alun Washington, Adi mencermati tata kota, di mana perumahan warga berada di antara gedung-gedung pemerintahan dan swasta. Penataan seperti itu, menurut Adi, eksekutif dan legislatif senantiasa diingatkan begitu keluar dari Capitol atau Gedung Putih, apa yang mereka lakukan adalah “untuk satu kesatuan, Amerika yang satu.” Sedangkan tentang Islam di Amerika, ia menilai, kondisinya sangat membahagiakan.

“Membahagiakannya adalah kita mendapatkan ragam-ragam persoalan yang mungkin tidak dijumpai di Indonesia, kita dapati di sini sehingga sudut pandang fiqihnya memberi wawasan lebih, khazanahnya bisa diperluas, pengetahuan tentang Islam jadi lebih lengkap. Fatwa-fatwa menjadi lebih melengkapi sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang berkembang sehingga di situ kita mendapatkan pembuktian bahwa Islam senantiasa selaras dengan perkembangan setiap zaman dan memberikan nilai-nilai kebaikan yang menuntun dalam berkehidupan,” papar UAH.

Islamophobia di AS Meningkat, Perempuan Muslim Dirikan Kelas Bela Diri

Kembali ke Oki, ia melihat semangat Muslim di Amerika dalam belajar dan mengajar sangat tinggi. Selain itu, mereka…

“Paham bahwa di masa sekarang ini tidak cukup dengan hanya belajar agama tapi dibarengi dengan ilmu-ilmu lainnya. Misalnya bisnisman juga menjadi penghafal Quran. Jadi, dunia akhirat yang seimbang,” kata Oki.

Oki dan UAH juga melihat ada kegiatan yang bisa disinergikan. Keduanya mengajak Muslim di Amerika bekerja sama dengan lembaga yang mereka kelola, Quantum Akhyar oleh Adi Hidayat dan Yayasan Maskanul Huffadz oleh Oki Setiana Dewi.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 

  • Bagikan