Upaya Industri Hulu Migas Menggapai 1 Juta BOPD dan 12 BSCFD di Tengah Pandemi Covid-19
Natuna (Suara Kalbar) – Sektor Hulu Migas merupakan Kegiatan Negara yang mempunyai peran penting dalam penyediaan Minyak dan Gas yang merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari. SKK Migas sebagai institusi negara yang bertugas melaksanakan Pengawasan dan Pengendalian kegiatan hulu migas di Indonesia berkomitmen penuh dan berupaya agar Kebutuhan Migas di Indonesia dapat terpenuhi.
Disamping itu, SKK Migas juga hadir untuk mendukung Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi Migas dalam upaya mendapatkan cadangan migas dan memproduksi minyak dan gas di Indonesia untuk negara dengan skema usaha bagi hasil (production sharing contract). Tujuan besar dari kegiatan industri di sektor hulu migas dari Pemerintah melalui SKK Migas adalah bagaimana mengawal operator perusahaan hulu migas / KKKS bekerja dan berusaha dengan SDM, teknologi dan capital yang tinggi dapat menemukan cadangan migas melalui kegiatan fase eksplorasi. Selanjutnya, apabila kandungan cadangan migas ditemukan dan dinyatakan ekonomis cadangan migas tersebut akan dilanjutkan dengan rencana pengembangan dan produksi dalam fase eksploitasi.
Sebagai dampak dari aktifitas sektor hulu migas di atas adalah multiplier effect ekonomi yang nyata bagi masyarakat maupun pemerintah, dipusat dan daerah. Pencapaian hasil lifting migas nasional adalah penopang penting APBN Nasional. Bagi daerah penghasil, Dana Hasil Migas adalah andalan sumber anggaran bagi pembangunan di daerah. Sektor hulu migas juga memberikan dampak multiplier effect yang lain seperti Pajak dan Retribusi Pusat dan Daerah, Participating Interest, Kesempatan lapangan usaha dan kesempatan kerja, Program Pengembangan Masyarakat dan effect-effect lainnya.
SDA Migas masih memainkan peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Dimana SKK Migas berkomitmen agar kontribusi hulu migas terhadap perekonomian nasional tetap terjaga dengan cara meningkatkan produksi mencapai target jangka panjang. Adapun target tersebut yakni pencapaian produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) atau setara 3,2 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) pada tahun 2030.
Rencana jangka panjang SKK Migas tahun 2030 adalah sejalan dengan rencana umum energi nasional (RUEN). Dalam RUEN pada tahun 2050 kebutuhan minyak akan meningkat menjadi 3,97 juta BOPD, sedangkan untuk gas 26 BSCFD. Ini menegaskan bahwa peningkatan produksi minyak dan gas adalah suatu keharusan agar dapat menopang kebutuhan energi dan bahan baku industri secara berkelanjutan.
SKK Migas menyusun Renstra Indonesia Oil and Gas (IOG) 4.0. Renstra IOG 4.0 merupakan panduan yang dikembangkan oleh SKK Migas dalam rangka pencapaian ambisi industri hulu migas Indonesia untuk periode 10 tahun kedepan untuk mencapai target 1 juta BOPD, 12 BSCFD, meningkatkan multiplier effect dan menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam rangka menghadapi tantangan dan kebutuhan, SKK Migas mencanangkan target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030, sebagai tanda kebangkitan industri hulu migas Indonesia. Jika target dapat tercapai, maka akan menjadi pncak produksi baru bagi Indoesia karena produksi saat itu akan setara 3,2 juta barel per hari. Namun untuk mencapai target itu dibutuhkan perubahan mindset dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman dengan melakukan upaya-upaya “Not Business As Usual”.
Target produksi yang diinisiasi SKK Migas ini mendapatkan dukungan dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Dimana setiap stakeholder telah menyampaikan aspirasinya dan mendiskusikan hal yang dapat mendukung pencapaian target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada 2030. Semua pihak menyadari pencapaian target tersebut dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang baik. Salah satunya dapat menekan defisit perdagangan migas. Apalagi, dalam dua tahun terakhir, besarnya impor migas disebut menjadi beban dalam neraca dagang dan turut memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
Hal tersebut di atas, membuktikan dengan adanya dorongan ini menunjukkan adanya semangat yang sama untuk memastikan bahwa industri migas Indonesia bisa bertahan di tengah ketidakpastian harga minyak dunia dan pandemi Covid-19. Dan penerapan teknologi juga jadi salah satu poin penting di sektor hulu migas sehingga bisa lepas dari ketergantungan terhadap harga minyak dunia.
Bersama seluruh kementerian dan pemangku kepentingan lainnya, SKK Migas mengajak seluruh elemen untuk dapat berperan aktif dalam usaha peningkatan produksi migas Nasional dengan melakukan perubahan paradigma demi industri hulu migas Indonesia yang semakin bermanfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pada akhirnya, kebangkitan industri hulu migas ini akan kembali menggeliat dan mencetak sejarah baru karena semua pihak ikut berpartisipasi mewujudkan visi bersama, yakni target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada 2030.






