SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Haturkan Duka, Harisson: Empat Nakes di Kalbar Meninggal Karena Covid-19

Haturkan Duka, Harisson: Empat Nakes di Kalbar Meninggal Karena Covid-19

Kadinkes Kalbar Harisson didampingi Pangdam XII Tanjungpura dan Ketua Yayasan Mujahiddin Syarif Kamaruzzaman saat meninjau pelaksanaan Vaksin di Masji Raya. SUARAKALBAR.CO.ID/Pri

Pontianak (Suara Kalbar) – Satu lagi tenaga kesehatan harus berpulang akibat Covid-19.

Perawat UPT RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Kota Pontianak menghembuskan nafas terakhir pada Hari Selasa, pukul 21.40 WIB di ICU UPT RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menghaturkan duka mendalam.
“Saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam terhadap meninggalnya tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam pelayanan pasien yang terpapar virus corona,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (25/6/2021).

Menurutnya di Kalbar sebanyak 4 nakes yang telah berpulang akibat Covid-19 dalam rangka melayani pasien Covid-19.

“Untuk di Kalbar sendiri sampai sekarang ada 4 orang tenaga kesehatan yang meninggal karena terpapar covid,” tuturnya.

Dijelaskannya terhadap pelayanan pasien covid-19, sudah diatur dengan aturan terkait pelayanan termasuk kelengkapan APD masker dan lainnya dan Pemerintah tetap mengadakan kelengkapan untuk seluruh Nakes yang ada.

“Sebenarnya untuk tenaga kesehatan dan tenaga penunjang yang berhubungan langsung dengan pelayanan pasien covid sudah ada standarnya, sudah ada SOP nya dan telah lama terbit permenkes nomor 27 tahun 2017 ttg Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Fasyankes, kemudian dibuat lagi penjabaran dan SOP tentang pelaksanaanya baik oleh kemenkes maupun oleh organisasi profesi masing-masing,” paparnya.

Setiap tenaga kesehatan dan manajemen fasyankes sebenarnya telah memahami bagaimana pencegahan terhadap paparan infeksi.

“Pencegahan terhadap infeksi dikenal dengan istilah Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu infeksi,” urainya.

Namun ada banyak faktor yang menyebabkan pelaksanaan perlindungan diri pada nakes dari risiko terpapar infeksi menjadi tidak efektif, diantaranya karena faktor kelelahan, beban kerja yang tinggi sehubungan dengan meningkatnya jumlah pasien yang ditangani.

“Salah satu faktor ini, misalnya karena kelelahan yang menyebabkan pelaksanaan secara ketat dan disiplin SOP perlindungan diri dari terpapar infeksi menjadi terabaikan,” tegasnya.

Kewaspadaan standar antar lain kebersihan tangan, penggunaan APD, dekontaminasi peralatan perawatan pasien, pengendalian lingkungan, pengelolaan limbah, penempatan pasien dan lainnya. Sedangkan untuk Kewaspadaan berdasarkan transmisi suatu penyakit antara lain melalui kontak, droplet, udara, makanan dan vektor misalnya lalat dan lainnya.

“Pelaksanaan upaya perlindungan diri dari risiko infeksi virus atau bakteri dan lain lain ini harus di awasi oleh manajemen fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Harisson.

Ia menambahkan sebenarnya sudah ada sistem dalam pengawasan dan pengendalian infeksi ini di fasyankes masing masing. Untuk Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dibentuk tim PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), kalau di rumah sakit ada Komite PPI.

“Jadi sudah ada tim atau petugas yang mengawasi pelaksanaannya di fasyankes,” cetusnya.

Namun ada banyak faktor yang menyebabkan pelaksanaan perlindungan diri pada nakes dari risiko terpapar infeksi menjadi tidak efektif, diantaranya karena faktor kelelahan, beban kerja yang tinggi sehubungan dengan meningkat nya jumlah pasien yang ditangani.

“Untuk peralatan APD sendiri Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit selalu menyediakan, tidak seperti di awal pandemi dimana kita kesusahan mencari APD, misal nya masker, sarung tangan, maupun baju Hazmat. Sekarang ini sudah banyak tersedia APD baik bantuan dari Kemenkes maupun yang disediakan oleh pemerintah daerah,” pungkasnya.

Komentar
Bagikan:

Iklan