Dulu Menyembah Makhluk Halus, Kini Warga Kampung Ini Kompak Masuk Islam
![]() |
| Ilustrasi makhluk halus (Unsplash/Stefano Pollio) |
Suara Kalbar – Warga di dataran tinggi Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang kompak memeluk agama Islam. Kemudian membangun kawasan pemukiman yang diberi nama Kampung Mualaf Darussalam.
Kampung ini diresmikan sekitar Februari 2019. Awalnya dihuni oleh
masyarakat muslim atau mualaf yang jumlahnya enam orang. Kini bertambah
menjadi sekitar 30 orang. Sebanyak 20 unit rumah sudah terbangun.
Sebelum memeluk agama islam rara-rata warga menyembah makhluk halus atau roh. Warga menganut kepercayaan animisme Aluk Todolo. Kepercayaan yang berasal dari suku Toraja Kuno.
Warga Kampung Mualaf sebagian besar berasal dari Dusun Makula,
Desa Mesakada, Kecamatan Lembang. Mereka bekerja sebagai buruh tani.
Untuk sampai ke Kampung Mualaf, pengunjung harus menempuh jalur
yang cukup sulit. Karena jalannya rusak dan berbatu. Jika musim kemarau
berdebu. Saat musim hujan akan berlumpur.
Dari Kabupaten Pinrang, membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk
sampai ke Kecamatan Lembang. Selanjutnya dari kecamatan ke Kamopung
Mualaf Dusun Makula, butuh sekitar satu jam perjalanan.
Dari pentauan dan informasi yang dihimpun KabarMakassar.com —
jaringan Suara.com, kini masyarakat setempat sedang membangun asrama
putri dan asrama putra. Sumber dana pembangunan asrama berasal dari
sumbangan dan donatur asal lembaga swasta, komunitas dan lainnya.
Tokoh
masyarakat atau inisiator pendiri Kampung Mualaf Darussalam, Guntur (51
tahun) mengatakan, Kampung Mualaf ia rintis bersama lima orang
keluarganya.
Diperuntukan khusus mualaf atau orang yang baru memeluk agama
Islam. Pembangunan dan pembebasan lahan Kampung Mualaf berasal dari
sumbangan berbagai pihak.
Baca Juga:
Terungkap! Deddy Corbuzier Ingin Anaknya Azka Corbuzier Memeluk Islam
“Kampung Mualaf ini awalnya kami hanya satu keluarga 6 orang yang
tinggal. Alhamdulillah, sekarang sudah ada 30 orang mualaf atau 17
kepala keluarga yang tinggal. Karena memang kampung ini dikhususkan bagi
yang mualaf,” kata Guntur, Kamis 15 April 2021.
Perkampungan mualaf terbilang masih baru. Namun cukup berkembang
pesat dari segi pembangunan. Naik dari hunian, rumah ibadah, listrik
hingga lahan pemakaman telah tersedia. Semua pembangunan itu berasal
dari sumbangan masyarakat di luar kampung.
“Alhamdulillah, tahun ini adalah Ramadhan ketiga. Saat ini kami
sedang membangun asrama untuk menampung para mualaf dari tetangga
kampung yang mau belajar agama di sini,” ungkap Guntur.
Selain itu, Guntur bersama masyarakat setempat bermimpi akan
dibangunnya sebuah pesanteren di perkampungan itu, sebagai pusat
pendidikan bagi anak-anak muslim di sekitar kampung.
Hanya saja, kata dia, kampung tersebut masih kekurangan ustad
atau penceramah yang bisa mengajari ilmu agama bagi para mualaf.
Terutama mualaf baru.
“Kami di sini masih terkendala dengan da’i atau guru agama. Untuk
mengajari anak-anak mengaji dan penceramah, terutama di bulan Ramadhan
ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ustadz Mursidin Husdin salah seorang pembimbing
agama asal Kabupaten Toraja Utara mengaku telah melakukan pendampingan
agama sejak kampung tersebut dibentuk.
“Saya melakukan pendampingan dan mengajari ilmu agama ke mereka
paling satu sampai tiga hari. Karena saya juga seorang guru salah satu
sekolah di Toraja, jadi waktu saya cukup terbatas,” kata dia.
Ustadz Mursidin berharap agar adanya relawan da’i untuk melakukan
pendampingan agama secara intensif terhadap para mualaf mengingat
pemahaman mereka mengenai agama masih cukup awam.
“Saya pribadi berharap ada Dai secara intensif melakukan
pendampingan disini. Mereka ini ibaratkan kertas putih yang masih sangat
awam pemahaman agama islam, jadi memang perlu kesabaran untuk menuntun
mereka,” harapnya.






