Februari 2021, Tekanan Harga di Kalbar Meningkat
![]() |
| Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Agus Chusaini saat melihat hasil UMKM di Dekranasda. SUARAKALBAR.CO.ID/Pri |
Pontianak (Suara KLbar) – Pada bulan Februari 2021, tekanan harga di Kalimantan Barat meningkat, tercermin dari realisasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tercatat inflasi sebesar 0,10% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan Januari 2021 sebesar -0,06% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Agus Chusaini mengatakan realisasi IHK Februari 2021 tercatat searah inflasi nasional sebesar 0,10% (mtm) dan menempatkan Kalbar pada posisi ke-20 dari 34 provinsi di Indonesia.
“Dilihat secara historis, realisasi IHK Februari 2021 lebih rendah dari rata-rata IHK bulan Februari periode 3 tahun terakhir sebesar 0,48% (mtm),” ungkapnya, Kamis (4/3/2021).
Menurutnya inflasi Kalbar didorong oleh Inflasi dua kota dari ketiga kota sampel yaitu Kota Pontianak sebesar 0,09% (mtm), Kota Singkawang sebesar 0,25% (mtm). Sedangkan Kabupaten Sintang mengalami deflasi sebesar -0,13% (mtm).
“Secara nasional, IHK bulanan di Kota Pontianak, Kota Singkawang, dan Kabupaten Sintang tersebut masing-masing berada pada posisi ke-48, ke-23, dan ke-68 dari 90 kota sampel inflasi di Indonesia,” jelasnya.
Berdasarkan kelompok komoditasnya, inflasi Kalbar secara dominan disumbangkan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, makanan minuman dan tembakau, serta transportasi yang masing-masing sebesar 0,03%, 0,02% dan 0,02%.
Adapun komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi bulanan Kalbar adalah ikan kembung, cabai rawit, kangkung, anggur dan daging babi. Di sisi lain, inflasi lebih dalam tertahan oleh penurunan yang terjadi pada beberapa komoditas, antara ikan tongkol, daging ayam ras, telur ayam ras, udang basah serta bawang merah.
“Inflasi Kalbar ke depan diperkirakan masih berada pada rentang target inflasi nasional 3+1% (yoy). Lebih lanjut, berdasarkan prakiraan BMKG bahwa curah hujan di wilayah,” tuturnya.
Kalimantan Barat pada Maret 2021 diperkirakan menengah sehingga risiko terjadinya gangguan produksi dan distribusi cenderung rendah. Namun demikian, terdapat risiko inflasi yang perlu diwaspadai yaitu gangguan distribusi dan pasokan bahan pangan pokok karena kondisi pandemi Covid-19.
“Ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat akan terus hadir di masyarakat untuk menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, demi mencapai pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang berkualitas,” pungkasnya.
Penulis: Pri





