Sepakat Berdamai, Perselisihan Kekerasan Anak di Sambora Diselesaikan Secara Adat

Editor : Dian Sastra

Upaya mediasi perselisihan antar keluarga akibat kekerasan terhadap anak yang dipicu perundungan (bullying) di Aula Kantor Desa Sambora, Kecamatan Toho, Rabu (27/1/2021) siang. Kedua belah pihak sepakat berdamai dan akan menyelesaikannya secara adat. SUARAKALBAR.CO.ID/Ist

Mempawah (Suara Kalbar) – Tindak kekerasan anak di bawah umur di Kecamatan Toho, diselesaikan secara adat, setelah para pihak sepakat untuk berdamai dan tidak memperpanjang masalah di kemudian hari.

Kesepakatan damai tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Rabu (27/1/2021) pagi, yang dimediasi oleh Polsek Toho, Kepala Desa Sambora, Fransiskus, Dinas SPPPAPMPD Kabupaten Mempawah, KPAID Kabupaten Mempawah, serta Timanggung Desa Sambora, M. Iyong.

Sementara kedua keluarga yang berselisih, yakni Isn beserta anaknya, maupun Hr dan istrinya, turut hadir dalam upaya mediasi tersebut.

Musyarawah dan mufakat diawali dengan sambutan Kepala Desa Sambora, Fransiskus, yang berharap perkara kekerasan terhadap anak tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan, mengingat kedua keluarga yang terlibat perselisihan merupakan tetangga dekat.

“Karena itu, saya menyarankan, kedua belah pihak dapat berdamai dan menyelesaikan permasalahan antar kedua keluarga ini dengan cara adat saja,” tegasnya.

Sementara itu, Polsek Toho, yang diwakili Kanit Reskrim, Ipda Ali Mahmudi, menyampaikan hasil pengumpulan bahan keterangan perkara tersebut.

Ia membenarkan, berdasaran hasil visum  dan pemeriksaan saksi-saksi, ditemukan adanya tindak penganiayaan terhadap anak di bawah umur berinisial Ra oleh tetangganya, Isn. Namun perbuatan tersebut dilakukan karena adanya dugaan perundungan (bully) terhadap anak Isn yang bernama Kha dan kawan-kawan.

Kasus ini terus berkembang, karena kedua belah pihak saling melapor ke polisi, sehingga akhirnya pihak desa dan pihak lembaga adat, meminta agar perselisihan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan saja.

Hal tersebut turut mendapat respon baik dari Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Dinas SPPPAPMPD Kabupaten Mempawah, Irma Rosalina.

Ia berpendapat, jika kasus ini dilanjutkan ke proses pidana, maka akan terdapat konsekuensi hukum bagi kedua belah pihak, yang tentunya sama-sama akan dirugikan. Karenanya, penyelesaian secara kekeluargaan dan adat, menjadi solusi terbaik.

Menanggapi hasil musyawarah tersebut, kedua belah pihak yang berselisih, sepakat menyetujui upaya perdamaian. Baik keluarga Isn dan keluarga Hr, mengakui kekhilafan masing-masing dan akan menyelesaikan perselisihan mereka dengan ritual adat setempat, yakni Enam Tahil Tangah Jalu Sekok.

 

Penulis : Distra

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini