SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Presiden RI Keempat, Gusdur adalah Sosok Nahdlatul Ulama yang Sesungguhnya

Presiden RI Keempat, Gusdur adalah Sosok Nahdlatul Ulama yang Sesungguhnya

Pengajian umum lailatul ijtima’ PCNU Mempawah di Pondok Pesantren Darul Ulum Kecamatan Segedong yang dirangkai dengan Haul KH. Abdurahman Wahid. SUARAKALBAR.CO.ID/Ist

Mempawah (Suara Kalbar) – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)
Kabupaten Mempawah, menggelar Malam Lailatul Ijtima’ di Yayasan Pendidikan
Pondok Pesantren Darul Ulum, Kecamatan Segedong, Rabu (27/1/2021).

Kegiatan turut dirangkai dengan Haul ke-11 Presiden
Indonesia keempat, 1999-2001, KH. Abdurahman Wahid atau familiar disebut
Gusdur.

Wakil Sekretaris Pengurus Daerah NU Kalimantan Barat,
Zulkifli Abdillah, yang hadir sebagai penceramah, mengungkapkan banyak sisi
menarik dari seorang Gusdur, yang tidak saja dikenal sebagai seorang pemimpin
bangsa ini, tapi juga merupakan ulama multi talenta.

“Almarhum Gusdur adalah ulama terkemuka yang berlatar
belakang pondok pesantren. Kiprahnya yang begitu besar di Nahdlatul Ulama tidak
kita ragukan lagi. Beliau adalah bapak bangsa yang dikenal multi talenta, guru
bangsa, seorang pemikir, budayawan, penulis dan bahkan politisi,” ujar Zulkifli.

Ia lantas menceritakan tentang lahirnya Pengurus Cabang
Istimewa NU yang ada di luar negeri, itu semua tak lepas dari perjuangan dan
jerih payah sosok Gusdur.

“Apa yang telah dilakukan seorang Gusdur pada masa itu,
sudah kita rasakan manfaatnya sekarang. Banyak yang bisa kita petik manfaat
dari perjuangannya untuk rakyat Indonesia yang multikultural ini, terkhusus
untuk warga NU,” jelas Zulkifli.

Sekretaris MUI Kalimantan Barat ini juga memaparkan tentang
pemikiran pemikiran Gusdur, yang terkadang menimbulkan kontroversi di kalangan
masyarakat Indonesia pada waktu itu, bahkan ada mendapat penolakan dari warga
Nahdlatul Ulama sendiri.

Waktu itu, tambah Zulkifli, sosok Gusdur dikenal sebagai
pejuang kemanausiaan, pembela minoritas, dan non muslim. Gusdur menganggap
semua manusia itu sama, harus mendapatkan perlakuan yang sama, keadilan yang
sama tanpa memandang agama, ras, suku dan asal usulnya.

“Atas dasar inilah lahir sebuah ungkapan dari sosok
Gusdur yang amat terkenal, yakni “memanusiakan manusia”. Karena
keyakinan beliau, memanusiakan manusia sama artinya dengan memuliakan sang
penciptaNya,” ungkapnya.

Zulkifli lantas berharap, warga NU maupun Banom yang hadir
pada Malam Lailatul Ijtima’ yang digelar PCNU Mempawah itu, dapat meneladani Gusdur
sebagai sosok ulama yang moderat, pejuang kemanusiaan, budayawan, pemikir,
penulis dan politisi.

“Kalau saudara-saudara ingin melihat NU yang
sesungguhnya, lihatlah sosok Gusdur!” pungkas Zulkifli.

Malam Lailatul Ijtima’ PCNU Mempawah ini sedianya akan
digelar pada Desember 2020 lalu. Namun dengan adanya imbauan pemerintah untuk
tidak melakukan kegiatan apapun guna mencegah penyebaran Covid-19, maka ditunda
hingga akhir Januari.

Pun demikian, Malam Lailatul Ijtima’ yang digelar PCNU tetap
dengan mematuhi protokol kesehatan, yakni mengenakan masker, menjaga jarak dan
mencuci tangan.

 

Penulis : Distra

Komentar
Bagikan:

Iklan