SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Nelayan Desa Satai Kepulauan Maya Keluhkan BBM Subsidi Harga Tinggi dan Jarang Tersedia

Nelayan Desa Satai Kepulauan Maya Keluhkan BBM Subsidi Harga Tinggi dan Jarang Tersedia

Beberapa kapal milik nelayan di Kepualauan Maya KKU. SUARA KALBAR/Foto:Wiwin

Kayong Utara (Suara Kalbar) – Hadirnya stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) disebuah kawasan tentu bertujuan memberikan kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) yang diperlukan dikawasan setempat.

Dengan adanya SPBU, keperluan BBM masyarakat terutama yang sangat mengandalkan bahan bakar seperti nelayan sangat berpengaruh terutama dalam mencari kebutuhan sehari-hari.

Namun disayangkan kehadiran SPBU Kompak bernomor hukum 66.788.006 yang ada di Kecamatan Pulau Maya dan baru diresmikan Bupati Kayong Utara Citra Duani pada 17 juni 2020 lalu, sama sekali tidak memenuhi kebutuhan para nelayan.

M, seorang nelayan masyarakat Pulau Maya yang menggantungkan hidup dari hasil laut itu, mengeluhkan kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsisi jenis solar.

Beberapa waktu ini dijelaskannya masyarakat nelayan Pulau Maya mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis solar kalaupun ada BBM tersebut didapat dengan harga yang tinggi.

“Kami nelayan yang dibawa 3GT seharusnya mendapatkan pelayanan dari pihak SPBU dengan harga subsidi, namun pada saat kami membutuhkan BBM jenis solar sering kali terjadi tidak ada dan jikapun ada harganya tinggi,” ungkapnya kepada suarakalbar.co.id, Rabu (27/1/2021).

Menurutnya kerap kali terjadi demi mendapatkan BBM jenis solar tersebut nelayan Kepulauan Maya terpaksa membeli  ke tempat Bagan atau (penampung) yang tidak begitu jauh dari lokasi SPBU dengan harga yang begitu tinggi. 

Iapun mengeluhkan untuk pelayanan SPBU kepada nelayan dibawah 3GT tidak sesuai dengan keputusan Bupati Kayong Utara, untuk premium Rp6.450, pertalite Rp7.850 dan solar Rp 5.150 per liter.

“Padahal bagan ndak jauh dari SPBU sekitar 5meter jaraknya tapi mereka jual kadang seliter bisa mencapai 8ribu rupiah kadang 6ribu,” katanya.

Bahkan, untuk penjualan BBM dari SPBU kemasyarakat nelayan diakuinya nota pembelian nya atau harga satuan BBM tidak dicantumkan hanya jumlah keseluruhannya saja. 

“Dalam hal ini kami selaku masyarakat nelayan Pulau Maya bukan ingin memperkeruh suasana yang ada hanya meminta kepastian harga dan kami berharap kepada pemerintah Kayong Utara agar dapat mengambil langkah agar kedepan nya pihak SPBU Kompak pelayanannya terhadap nelayan benar-benar sangat dirasakan manfaatnya,” paparnya.

Ia menambahkan dengan jarangnya ketersediaan solar dengan harga tinggi itu sangat memberatkan nelayan Pulau Maya terlebih kondisi cuaca yang memerlukan tenaga jauh lebih besar terhadap kapal yang mereka gunakan agar dapat mencari ikan lebih banyak untuk dijual.

“Sudah jarang ada sekali ada mahal. Ini yang memberatkan kami,” pungkasnya.

Penulis: Wiwin

Komentar
Bagikan:

Iklan