Anggota DPRD Tanggapi Harga BBM di Kepulauan Maya yang Tinggi dan Jarang Ada
![]() |
| Kapal nelayan di Pulau Maya SUARA KALBAR/Foto:Wiwin |
Kayong Utara (Suara Kalbar) – Terkait harga bahan bakar minyak (BBM) yang dikeluhkan nelayan di Desa Satai Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara diakui Anggota DPRD Kabupaten Kayong Utara Dapil II Bung Tomo harus ditindaklanjuti.
Ia lantas meminta kepada pihak pengelola SPBU 3T di Kecamatan Pulau Maya agar mendistribusikan harga BBM ke nelayan dengan harga yang sudah ditentukan.
“Saya minta pihak SPBU 3T di Kecamatan Pulau Maya agar menjual BBM Subsidi ke nelayan dengan harga yang sudah di tentukan pemerintah,” ungkapnya saat dihubungi suarakalbar.co.id, Rabu (27/1/2021).
Kemudian, ditegaskannya kembali bahwa pihak SPBU 3T harus melakukan pelayanan yang fungsional.
“Jangan seperti saat ini banyak nelayan Pulau Maya yang merasa kesulitan dan jangan hanya buka ketika minyak datang saja,” tegasnya.
Sebelumnya beberapa waktu ini dijelaskan M salah satu nelayan di Desa Satai Kecamatan Pulau Maya, masyarakat nelayan Pulau Maya mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis solar kalaupun ada BBM tersebut didapat dengan harga yang tinggi.
“Kami nelayan yang dibawa 3GT seharusnya mendapatkan pelayanan dari pihak SPBU dengan harga subsidi, namun pada saat kami membutuhkan BBM jenis solar sering kali terjadi tidak ada dan jikapun ada harganya tinggi,” ungkapnya kepada suarakalbar.co.id, Rabu (27/1/2021).
Menurutnya kerap kali terjadi demi mendapatkan BBM jenis solar tersebut nelayan Kepulauan Maya terpaksa membeli ke tempat Bagan atau (penampung) yang tidak begitu jauh dari lokasi SPBU dengan harga yang begitu tinggi.
Iapun mengeluhkan untuk pelayanan SPBU kepada nelayan dibawah 3GT tidak sesuai dengan keputusan Bupati Kayong Utara, untuk premium Rp6.450, pertalite Rp7.850 dan solar Rp 5.150 per liter.
“Padahal bagan ndak jauh dari SPBU sekitar 5meter jaraknya tapi mereka jual kadang seliter bisa mencapai 8ribu rupiah kadang 6ribu,” katanya.
Bahkan, untuk penjualan BBM dari SPBU kemasyarakat nelayan diakuinya nota pembelian nya atau harga satuan BBM tidak dicantumkan hanya jumlah keseluruhannya saja.
“Dalam hal ini kami selaku masyarakat nelayan Pulau Maya bukan ingin memperkeruh suasana yang ada hanya meminta kepastian harga dan kami berharap kepada pemerintah Kayong Utara agar dapat mengambil langkah agar kedepan nya pihak SPBU Kompak pelayanannya terhadap nelayan benar-benar sangat dirasakan manfaatnya,” paparnya.
Ia menambahkan dengan jarangnya ketersediaan solar dengan harga tinggi itu sangat memberatkan nelayan Pulau Maya terlebih kondisi cuaca yang memerlukan tenaga jauh lebih besar terhadap kapal yang mereka gunakan agar dapat mencari ikan lebih banyak untuk dijual.
“Sudah jarang ada sekali ada mahal. Ini yang memberatkan kami,” pungkasnya.
Penulis: Wiwin






