Mari Berbuat Baik, Saling Menyayangi dan Tidak Membuat Kerusakan
![]() |
| Kapolsek Siantan, Polres Mempawah, Iptu Rahmad Kartono. SUARAKALBAR.CO.ID/Dian Sastra |
Mempawah (Suara Kalbar)-Menjelang tutup tahun, Kapolsek
Siantan, Polres Mempawah, Iptu Rahmad Kartono, menyampaikan pesan-pesan kebaikan.
Ia berharap, ini menjadi refleksi masyarakat menuju Indonesia lebih baik di Tahun
Baru 2021.
Pesan kebaikan ini diawali Rahmad Kartono dengan mengutip
ayat kitab suci Alquran QS Al-Qasas: 77.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu kebahagiaan akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada
orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap
orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).
Menurutnya, kasih dan sayang dua sifat yang lebih sering
disebut sebagai satu kata, meski maknanya agak berbeda. Sifat kasih yang
berarti mengasihi sesama, tak memandang suku, ras, agama, yang biasanya
tercermin dari sifat peduli dan mau berbagi. Sedangkan sayang, sifat yang
melekat dalam diri individu yang sifatnya lebih personal, seperti sayangnya
orangtua ke anak, atau sebaliknya.
“Dua sifat tersebut (kasih dan sayang) sudah sepatutnya
melekat dalam diri kita sebagai makhluk yang tercipta dengan amat sempurna,”
jelasnya.
Kesempurnaan itu terlihat dari keberadaan panca indera
lengkap dengan fungsinya. Tidak hanya panca indera, organ-organ tubuh lainnya
juga membuat manusia mampu bertahan hidup setiap hari demi menjalani fungsinya
sebagai khalifah di muka bumi.
Dan satu hal lagi yang tak terlupa dan membedakan manusia
dengan makhluk hidup lainnya ialah akal. Manusia sempurna karena akal yang
dianugerahi Allah Subhanahu Wata’alaa, jika akal tersebut digunakan untuk
berpikir merenungi kebesaran Allah dan hal-hal yang mengandung kemaslahatan
Dalam Alquran, Allah SWT menganjurkan kita untuk menjaga
tali silaturrahim (hubungan kasih sayang kepada sesama). Dengan anjuran
berkasih sayang yang sifatnya umum inilah, mengantarkan kita kepada pemahaman
bahwa Islam tidak menentukan tanggal tepat kapan manusia dapat mencurahkan
kasih sayangnya, justru, Islam menganjurkan pemeluknya untuk menyayangi siapa
saja, dimana saja dan kapan saja.
“Sejarah masa lalu, posisi geografi dan pejalanan masa depan
akan mengikat kita. Untuk itu, jangan sampai ada pihak / kelompok yang bisa
memisahkan kita. Sebab kita bisa bersama-sama dalam menciptakan pilar-pilar
yang saling menghormati, menyayangi dan mencintai diantara kita. Tujuannya,
mendukung kebaikan bersama bagi generasi yang akan datang,” imbuhnya.
Iptu Rahmad Kartono juga mengaitkan tentang masalah
radikakalisme dan terorisme sebagai bagian dari rekayasa Politik. Dimana
Politik tersebut dapat merekayasa ketakutan pada manusia. Yang melakukan
rekayasa itu adalah rezim globalisasi. Targetnya, menciptakan pola pikir
manusia yang tidak akan bisa lepas dari rekayasa teknologi informasi dan komunikasi.
Ciri yang menonjol dari rekayasa yang diciptakan oleh rezim
itu adalah menimbulkan rasa takut. Pola pikir manusia yang selalu dipenuhi
dengan rasa takut dan ketidakadilan pemerintah, Misalnya, bakal kekurangan
angka pada rezeki atau pendapatan serta memandang perbedaan ekonomi yang
menyolok antara Muslim dengan Non Muslim, padahal Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa
selalu bersikap Adil kepada semua umat-Nya.
“Pada rasa ketakutan ini, manusia cenderung tidak lagi menyandarkan
diri atau mendekatkan diri kepada kebesaran Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Manusia lebih cenderung manyandarkan diri pada kekuatan diantara
sesama manusia. Mencari perlindungan kepada manusia, yang dianggap paling kuat
atau lebih kuat,” bebernya lagi.
Untuk menangkal pengaruh redikalisme dan terorisme tersebut,
Iptu Rahmad Kartono mengimbau, agar kita harus kembali kepada nilai-nilai moral
dan keimanan yang diperintahkan Tuhan melalui para Nabi dan Rasul-Nya dan
nilai-nilai Pancasila.
Perlu untuk dibangun kembali rasa saling mencintai dan
menyayangi diantara sesama manusia, seperti yang telah diajarkan oleh
Rasulullah SAW. Selain itu, juga diperkuat kembali semangat gotong-royong dan
saling membantu satu sama lain diantara kita. Serta bermusyawarah dan
bermufakat tentang setiap persoalan mungkin ada dantara kehidupan sosial kita.
Setiap ada perbedaan yang timbul, bingkai penyelesaiannya
adalah musyawarah dan mufakat. Karena semua persoalan bisa diselesaikan dengan
musyawarah mufakat, sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila di sila ke 4.
“Mari kita duduk berkumpul dan bermusyawarah dengan adil
disetiap persoalan. Setelah itu diikuti dengan swmangat untuk saling
sayang-menyayangi (rasa kemanusiaan) diantara sesama anak bangsa, maka akan
tercipta persatuan dan kesatuan. Itulah esensi nilai-nilai dasar negara kita
Pancasila,” ajak Rahmad Kartono.
Tugas amar makruf nahi munkar adalah tugas umat Islam dan
para penyelenggara negara, mengajak umat untuk melakukan amal kebajikan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur,
sejahtera, aman, tenteram, damai, bahagia lahir dan batin.
Demikian juga nahi mungkar berperan untuk melindungi setiap
warganegara dari kerusakan adab, moral, etika, akhlak dan budaya seperti,
Narkoba, Miras, LGBT, KORUPSI dan faham-faham yang bertentangan degan PANCASILA
yaitu, Marhenisme, Leninisme, Komunisme, Imprealisme, Kolonialisme, Kapitalisme
dan Liberalisme.
Bahwa pengaruh globalisasi dengan kemajuan teknologi
komunikasi yang sangat cepat dengan masuknya nilai-nilai baru harus dicermati
secara saksama, nilai-nilai yg baik boleh ditiru sedangkan nilai-nilai yang
negatif harus dicegah.
“Masuknya nilai-nilai baru akan mempengaruhi seluruh level
kehidupan masyarakat. Harus diyakini Pancasila sebagai dasar negara dan filosopi
kehidupan berbangsa dan alat pemersatu bangsa, harus bisa mencegah masuknya
nilai-nilai negatif dari luar,” pungkasnya.
Penulis : Distra






