Perempuan Suriah Abdikan Diri Menjadi Suster Bantu Penduduk Miskin

Publisher

 

Seorang suster perempuan di Suriah sebagai ilustrasi. (Foto: VOA)

Suara KalbarSeorang perempuan berusia 36 tahun di Istanbul, Turki, melakukan perjalanan seorang diri dan berperan sebagai unit medis perorangan, dia merawat sebagian pengungsi Turki termiskin dan paling rentan karena bagi banyak pengungsi rumah sakit bukanlah suatu pilihan. Sebagian pengungsi tidak memiliki surat-surat, lainnya tidak mampu merawat atau takut terjangkit virus corona di rumah sakit.

Khalid Khalifa, usia 28 tahun adalah seorang pengungsi Suriah yang tinggal di Turki, berbaring di ranjang dan tidak bisa berdiri. Ia lumpuh dari pinggang ke bawah.

Ia mengatakan, bertempur bersama pemberontak Suriah dan tertembak dalam pertempuran. Pejuang lain membawa dirinya lewat sebuah pipa air sepanjang setengah kilometer untuk menyelamatkan nyawanya.

Sekarang ia tinggal bersama saudara laki-lakinya di sebuah apartemen kecil di Istanbul. Luka menganga di bagian belakang kaki dan pantatnya karena berbaring terlalu lama berubah menjadi infeksi. Namun, selama pandemi virus corona ini, tidak ada seorang pun di rumah yang bekerja dan ia tidak bisa pergi ke rumah sakit.

Dengan mengenakan jilbab merah muda dan masker dokter, juru rawat Reem Srour merawat lukanya, membalutkan kain kasa yang dibasahi dengan betadine. Ia sendiri seorang pengungsi Suriah dan sekarang menghabiskan hari-harinya mendatangi rumah ke rumah untuk merawat orang sakit dan terluka yang sejak terjadi pandemi tidak mendapatkan perawatan medis.

“Mereka tidak bisa pergi ke rumah sakit. Mereka takut ke sana karena khawatir terjangkit virus. Rumah-rumah sakit tidak menerima semua orang. RS hanya menerima pasien dengan kondisi kritis," katanya.

Srour tinggal dan bekerja sebagai juru rawat lapangan di rumah sakit bedah di Suriah selama setahun, sebelum ia melarikan diri. Ia tidak bisa pulang karena merawat tentara pemberontak di daerah yang sekarang dikuasai oleh pemerintah.

Setiap hari, Reem Srour mengunjungi lima hingga delapan pasien. Kebanyakan adalah pengungsi dan semuanya sangat miskin. Teman dan tetangga membantunya dengan dana untuk membeli perlengkapan medis dan beberapa peggiat muda bergiliran mengemudikan kendaraan yang membawanya berkeliling mengunjungi pasien.

Kareem Sammoudi adalah seorang pengungsi berusia 31 tahun dari Maroko.

Dalam beberapa minggu terakhir ia menyeberang ke Yunani sebelum ditembak di kakinya oleh orang asing di jalan dan kemudian dideportasi kembali ke Turki. Ia mengatakan, ketika mereka membuangnya di perbatasan, ia tidak bisa berjalan, jadi merangkak selama berhari-hari sebelum mendapat tumpangan ke Istanbul.

Mereka merawat kakinya di Yunani dengan memasukkan batang logam tetapi sekarang kakinya terkena infeksi dan ia tidak mempunyai uang, paspor, atau dokumen lain. Srour perlahan-lahan mengikis kulit yang terinfeksi itu dengan pisau, tetapi dia mengatakan, banyak orang tidak mempunyai akses ke perawatan sama sekali.

“Saya tahu banyak orang tidak mendengar tentang saya, mereka belum mengetahui bahwa saya di sini untuk menolong. Saya pikir banyak orang memerlukan pertolongan, tetapi itu tergantung pada akses saya ke mereka dan akses mereka ke saya," katanya.

Turki menampung lebih banyak pengungsi Suriah daripada negara lain di dunia, dan Istanbul adalah kota terbesarnya, dengan penduduk 16 juta jiwa.

Negara ini perlahan-lahan dibuka kembali setelah berbulan-bulan penutupan wilayah, tetapi seperti di banyak negara, masih belum jelas kapan keadaan akan "kembali normal".

Srour mengatakan, mengunjungi rumah setiap hari bisa membuatnya terpapar virus, tetapi ia memakai sarung tangan dan masker. Menurutnya tinggal di rumah bukanlah pilihan. 

Sumber: VOA

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini