Membentuk Ekosistem Kendaraan Listrik, Bisa Mulai dari Sepeda Motor

Editor : Eno

 

Motor listrik Gesits di ajang IIMS 2019, Kemayoran, Jakarta. [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan]
- Hadirnya mobil listrik di pasar otomotif Nasional semoga memberi pertanda bahwa ekosistem kendaraan bermotor listrik terus berkembang. Selain penyediaan stasiun pengisian baterai, target juga terus berjalan dengan harapan terjadi penurunan efek rumah kaca di kemudian hari.

Dikutip dari kantor berita Antara pada Senin (9/11/2020), Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi,dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin menyatakan pemerintah terus memacu penerapan teknologi dan peningkatan investasi di sektor otomotif nasional, termasuk mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik roda dua, tiga, serta roda empat atau lebih, yang berbasis baterai listrik maupun mild hybrid dan strong hybrid.

Sementara Restu Yuni Widayati, Plt. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Ditjen ILMATE Kemenperin menyatakan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dapat dimulai dari industri sepeda motor listrik.

Hal itu didukung nilai investasi awal yang relatif rendah dengan tenaga kerja yang minimal, serta pangsa pasar produk sepeda motor listrik di Indonesia relatif cukup besar. Pasalnya, kendaraan roda dua bertenaga listrik ini mampu bersaing dengan produk sepeda motor konvensional dari sisi "total cost of ownership".

Gubernur Ridwan Kamil dengan motor listrik [Instagram ridwankamil].
Gubernur Ridwan Kamil dengan motor listrik. Sebagai ilustrasi penggunaan motor listrik sebagai kendaraan dinas yang dianggarkan Guberbur Jabar pada 2021 [Instagram ridwankamil].

Sekarang, tandasnya, ada 15 industri perakitan sepeda motor listrik yang telah mendapatkan Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK) dari Kemenperin. Inilah salah satu syarat suatu perusahaan dapat memproduksi kendaraan bermotor, dengan kapasitas produksi sepeda motor listrik sebesar 877 ribu unit per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.429 orang.

Kondisi ini tidak sama dengan situasi produsen yang memasarkan produk bertenaga listrik kategori roda empat atau lebih, dengan jumlah pemegang NIK tidak sebanyak kendaraan roda dua alias sepeda motor.

"Sedikit berbeda dengan industri roda empat atau lebih. Produk-produk ini membutuhkan investasi awal cukup besar dan tenaga kerja cukup banyak sehingga sampai saat ini hanya PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang telah memiliki fasilitas produksi bis listrik di Indonesia dengan kapasitas produksi 100 unit per bulan atau 1.200 unit per tahun," jelas Restu Yuni Widayati.

Ia juga mengungkapkan bajhwa pengembangan kendaraan listrik di Indonesia selain bertujuan untuk mendukung pencapaian target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030, juga bakal mampu menarik investasi di sektor industri komponen dan lainnya.

 

Sumber : Suara.com, Selengkapnya DISINI

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini