Robo’-Robo’, Tradisi Makan Seprahan yang Tak Lekang oleh Zaman

Editor : Dina Prihatini Wardoyo
Warga Jalan Pangsuma, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, menggelar tradisi Makan Seprahan di teras Masjid Fhatinul Muslimin sebagai tradisi turun-temurun perayaan Robo'-Robo'.

Mempawah
(Suara Kalbar) - Berbicara soal even budaya Robo’-Robo’, tentu tak bisa dipisahkan dari doa dan makan bersama di halaman atau biasa disebut saprahan. 

Kedua kegiatan ini selalu dilakukan warga Kabupaten Mempawah untuk memohon kepada Allah Taala agar dihindarkan dari bala’ sekaligus mempererat persaudaraan antar sesama. 

Khusus makan saprahan, merupakan salah satu tradisi yang tak hanya ada di Mempawah, tapi juga di daerah lainnya di Kalimantan Barat. Sampai saat ini, tradisi ini terus bertahan secara turun-menurun. 

“Makan saprahan dan doa tolak bala ini sudah berlangsung turun-temurun. Memang dilakukan setiap Robo’-Robo’. Selain itu saat lebaran dan lebaran haji juga ada, ” ungkap Mikael, warga Jalan Pangsuma, Desa Antibar, Rabu (14/10/2020) pagi. 

Untuk saprahan saat Robo’-Robo’ dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Satu persatu warga menghamparkan tikar di halaman rumah, kemudian duduk rapi dan saling berhadapan. Di atas tikar, masing-masing warga menyajikan aneka hidangan makanan dan minuman tradisional. 

Sedangkan warga di Jalan Pangsuma, makan seprahan berlangsung di teras Masjid Fhatinul Muslimin, Kompleks GOR Opu Daeng Menambon. Warga masing-masing menyajikan aneka hidangan makanan dan minuman tradisional.

Ketika para anggota keluarga dan tetangga sudah berkumpul, orang yang dituakan di daerah itu, kemudian diminta membacakan doa tolak bala. Usai berdoa, hidangan yang tersedia dimakan bersama-sama. Tak seorang pun yang menggunakan alat makan, seperti sendok atau garpu. Semuanya makan dengan tangan. 


Penulis : Dian Sastra
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini