Jepang Berupaya Tingkatkan Kuota Tangkapan Tuna Sirip Biru

Publisher

 

Kepala tuna sirip biru Pasifik akan segera diotopsi ahli biologi NOAA di Jolla, California, AS, 3 Oktober 2018. (Foto: VOA)

Suara Kalbar - Jepang mengusulkan untuk menaikkan kuota tangkapan tuna sirip biru Pasifiknya. Ikan yang sangat mahal dan biasanya diolah menjadi sushi dan sashimi itu saat ini populasinya hanya kurang dari lima persen sepanjang sejarah.

Associated Press melaporkan, Rabu (7/10), pertemuan virtual negara-negara yang mengelola sirip biru Pasifik mempelajari proposal Jepang untuk meningkatkan batas tangkapannya, baik untuk tuna sirip biru yang berukuran lebih kecil maupun yang lebih besar sebesar 20 persen.

Menurut catatan, populasi ikan tersebut dapat pulih dari penangkapan berlebihan selama beberapa dekade. Namun, para ahli konservasi mengatakan bahwa meningkatkan batas tangkapan yang dilakukan terlalu cepat dapat menggagalkan kemajuan pemulihan spesies tersebut.

Pew Charitable Trusts dalam laporannya, Selasa (6/10), peningkatan volume panen ikan tersebut dapat menjatuhkan harga, membuat industri ini kurang menguntungkan dalam jangka panjang.

Laporan Netting Billions 2020: “A Global Tuna Valuation”, menyebutkan nilai pasar tujuh spesies tuna termasuk sirip biru mencapai $ 40,8 miliar (Rp 603,8 triliun) pada tahun 2018. Meskipun Hasil tangkapan meningkat, angka itu turun dari $ 41,6 miliar pada tahun 2012.

Grantly Galland, seorang petugas di tim perikanan internasional Pew, mengatakan harga sebagian besar spesies tuna turun karena kelebihan pasokan ikan yang ditangkap.

Pertemuan Komisi Perikanan Pasifik Barat dan Tengah dan Komisi Tuna Tropis Inter-Amerika mencakup lebih dari dua lusin negara yang bekerja sama untuk mengelola perikanan di laut lepas dan mengekang penangkapan ikan ilegal dan tidak sah, serta kegiatan lain yang membahayakan spesies, seperti sirip biru Pasifik.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam pengelolaan sirip biru Pasifik berkomitmen pada tahun 2017 untuk mengurangi tangkapan mereka demi membantu mengembalikan spesies tersebut menjadi 20 persen dari angka historisnya pada tahun 2034.

Jepang memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup spesies tersebut, bukan hanya karena nafsu makannya yang besar terhadap ikan. Namun, sirip biru Pasifik tersebut bertelur hampir seluruhnya di laut dekat Jepang dan Korea. Nelayan Jepang juga menangkap tuna kecil untuk dibudidayakan hingga dewasa, meskipun jumlah nelayan tradisional artisanal telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda Jepang memilih untuk tidak terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya dan sulit tersebut.

Menurut sebuah dokumen, Jepang melaporkan telah menangkap 3.757 ton tuna kecil dan 5.132 tuna besar pada 2019. Untuk memenuhi batasannya, mereka mentransfer 250 ton kuota tangkapannya untuk sirip biru Pasifik yang lebih kecil ke batasnya untuk sirip biru yang lebih besar.  

Sumber: VOA


Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini