Dua Lagi Warga Amerika Pendukung ISIS Direpatriasi dari Suriah

Publisher

Seorang perempuan membawa jeriken air di kamp al-Hol yang dihuni oleh keluarga para kombatan asing ISIS, di al-Hasakeh, timur laut Suriah, 9 Desember 2019. (Foto: VOA)

Suara Kalbar - Seorang ayah dan putranya warga negara Amerika Serikat didakwa memberi dukungan materi kepada kelompok teror ISIS, setelah kembali ke AS. Keduanya adalah bagian dari keluarga yang beranggotakan tujuh orang, yang meninggalkan rumah mereka untuk bergabung bersama ISIS di Suriah.

Emraan Ali yang berusia 53 tahun dan putranya Jihad, yang berusia 19 tahun, menghadir persidangan pembacaan dakwaan memberi materi di pengadilan federal di Florida, Selasa (29/9).

Menurut dokumen-dokumen pengadilan, keduanya menyerahkan diri kepada Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) yang didukung Amerika di dekat Baghuz, di Suriah, pada Maret 2019, ketika benteng pertahanan terakhir kelompok teror itu ambruk.

Seorang anak laki-laki lain yang masih di bawah umur dan hanya diidentifikasi sebagai IMA, ketika itu ikut bersama mereka. Namun, pejabat-pejabat Amerika belum memberi informasi tentang keberadaan IMA atau anggota keluarga lainnya. Termasuk seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang menikah dengan pejuang ISIS yang berasal dari Inggris dan memiliki anak dari perkawinannya itu.

Gugatan pidana yang diajukan ke pengadilan itu menyatakan Emraan dan Jihad Ali mulai bicara dengan Biro Penyelidik Federal (the Federal Bureau of Investigation/FBI) secara sukarela pada Agustus 2019, beberapa bulan setelah menyerahkan diri.

Emraan, yang juga memililiki kewarganegaraan Trinidad dan Tobago, mengatakan kepada agen-agen FBI bahwa ia pertama kali tertarik datang ke Suriah pada akhir 2014, setelah adik iparnya mengiriminya foto dan video yang menunjukkan betapa bahagianya kehidupan di kekhalifahan yang dideklarasikan oleh ISIS. Ia membuat keputusan akhir untuk pergi ke Suriah pada Maret 2015 bersama istrinya, Sulaimah; putranya Jihad – yang ketika itu baru berusia 14 tahun – dan lima anak lainnya.

Jihad Ali, yang berkewarganegaraan Amerika, lahir di New York. Ia mengatakan kepada para agen FBI bahwa keluarga itu berangkat dari rumah mereka di Trinidad, melalui Brazil dan kemudian ke Turki, sebelum masuk ke Suriah.

Ia juga mengatakan ia enggan ikut serta dalam latihan militer ISIS setelah keluarganya tiba karena ia tidak ingin terpisah dari keluarganya, meskipun ia juga menggambarkan sebagian latihan yang diketahuinya, antara lain bagaimana menggunakan senjata mesin, granat berpeluncur roket, dan piranti lainnya yang dikenal sebagai “keren.”

Agen-agen FBI mengatakan Jihad kemudian menyombongkan diri tentang paparan militer yang dirasakannya dan adiknya yang kini berusia 15 tahun, dalam serangkaian pesan WhatsApp kepada ibunya.

Namun, Jihad mengatakan ia membesar-besarkan hal itu untuk menimbulkan kesan baik pada para pejuang ISIS. Ia mengklaim bahwa meskipun ia ikut serta dalam beberapa pertempuran, termasuk pertempuran di Baghuz, ia tidak pernah membunuh satu orang pun.

Dengan kembalinya ayah dan anak ini, berarti sejak 2017 Amerika sudah merepatriasi sedikitnya 12 orang dewasa dan 10 anak-anak yang berafiliasi dengan ISIS.

Awal bulan ini Omer Kuzu, seorang warga kota Dallas, Texas, yang berusia 23 tahun, mengaku bersalah berkonspirasi untuk menyediakan materi dukungan bagi terorisme. Nasib istri dan anaknya, serta adiknya, masih belum diketahui.

Langkah apa yang harus diambil kepada para kombatan asing ISIS dan keluarga mereka masih menjadi sumber perdebatan di Amerika dan negara-negara sekutu sejak kelompok teror itu berhasil dilumpuhkan.

Amerika telah mendesak negara-negara lain untuk merepatriasi warga negara yang meninggalkan tanah air mereka untuk bergabung dengan ISIS, tetapi banyak negara – terutama di Eropa Barat – yang enggan melakukan hal itu.

SDF masih menahan sekitar 2.000 pejuang asing di penjara-penjara di bagian timur laut Suriah. Diperkirakan ada 10.000 perempuan dan anak-anak yang bermukim di kamp-kamp pengungsian di kawasan itu. 

Sumber: VOA


Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini