Dari “Blusukan Online” Hingga “Ketuk Pintu”, Kampanye Pilkada di Masa Pandemi

Publisher

 

Suasana pengundian nomor urut pasangan calon di Pilkada Solo, Minggu (24/9). (foto: VOA)

Suara KalbarMinggu (27/9) siang itu di Kampung Dawung, Kecamatan Serengan, Surakarta, tampak dua pria mendorong sebuah kotak beroda setinggi hampir dua meter. Di bagian tengah kotak itu ada layar televisi datar 49 inci diapit gambar Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakoso, pasangan calon wali kota Solo yang diusung Partai PDI Perjuangan.

Sesekali, para relawan itu berhenti di depan rumah warga di perkampungan padat penduduk yang berjarak sekitar lima kilometer dari Balai Kota Solo. “Virtual box” atau kotak virtual, yang dilengkapi wifi portable dan kamera itu, kemudian dinyalakan dan warga bisa curhat daring dengan Gibran melalui kotak tersebut.

“Ngobrol tentang pandemi sama Mas Gibran meski lewat TV. Saya cerita sekarang kerjaan sulit. Senang bisa tatap muka sama Mas Gibran,” kata Rodliyatun, warga Dawung yang siang itu ikut “blusukan online”.

“Blusukan online” dengan kotak virtual itu menjadi ujung tombak Gibran berkampanye di tengah pandemi virus corona yang masih meruyak tak berkesudahan.

Pandemi virus corona mengubah drastis cara masyarakat berkegiatan, termasuk kegiatan kampanye seperti dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada pada 9 Desember. Sesuai dengan Aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 13 Tahun 2020, para kandidat pilkada dilarang menggelar kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, seperti konser musik, pentas seni, dan olahraga massal.

Para kandidat pun harus berstrategi menjangkau sebanyak mungkin para pemilih dengan keterbatasan cara kampanye. Salah satunya dengan kampanye online, seperti yang dilakukan Gibran, putra sulung Presiden Joko Widodo itu.

"Akan sangat sulit dikendalikan jika kita tetap blusukan secara offline, meski KPU membatasi pertemuan kampanye tertutup maksimal 50 orang. Teknologi baru ini sangat efektif. Kita tetap bisa menyapa warga,” ungkap Gibran.

Bagi Gibran, kampanye online justru membantunya lebih intens berkomunikasi dengan masyarakat. Tak sulit untuk Gibran berkampanye daring. Sebelumnya, pria berusia 33 tahun itu sudah cukup populer di jagat Twitter melalui akun perusahaan kateringnya, @chilli_pari. Per Senin, 5 Oktober, akun resmi Instagramnya @gibran_rakabuming sudah mencatat 428 ribu pengikut, sedangkan akun Facebooknya sudah memiliki lebih dari 53 ribu pengikut.

Kampanye Langsung

Bagyo Wahyono dan FX Supardjo, pasangan calon Walkot Solo dari jalur independen, dan pasangan tunggal calon bupati dan wakil Bupati Sragen, Kusdinar Yuni dan Suroto, lebih memilih tatap muka langsung.

Dengan mengenakan masker, Bagyo Wahyono dan tim kampanyenya pada Kamis (24/9) siang, terlihat mendatangi rumah warga satu-persatu di Tipes, Serengan untuk berdialog dan mencari dukungan suara di Pilkada 2020.

"Kampanye nanti kita ikuti aturan KPU. Kita tetap mengacu pada protokol kesehatan. Ya nanti kita door to door, dari rumah ke rumah. Kita sebarkan tim kampanye lebih banyak,” kata Bagyo yang berprofesi sebagai penjahit kebaya ini.

Pasangan Bajo ini juga akan melibatkan pedagang HIK, tukang parkir, penjahit, tukang batu, pedagang pasar hingga tukang becak menjadi juru kampanye. Sementara Suparno, Juru bicara Dewan Pimpinan Cabang DPC PDIP Sragen dan tim pemenangan Kusdinar Yuni - Suroto, Rabu (30/9), mengaku tidak ada kendala sarana prasarana untuk melakukan kampanye secara online. Namun, pihaknya lebih banyak melakukan kampanye langsung karena tidak semua warga bisa menggunakan media sosial.

“Semua kita lakukan dari daring maupun terbuka terbatas dan tertutup. Pasti selalu mematuhi protokol kesehatan. Menyesuaikan tetapi lebih pasnya ya tatap langsung. Offline. Ya online kan ‘pak de, mbok de’ tidak paham,” ujar Suparno kepada VOA.

Tantangan Kampanye Online

Kampanye daring sendiri bukan tanpa tantangan. Bentuk kampanye daring butuh infrastruktur listrik dan jaringan internet yang memadai. VOA sempat mengikuti blusukan online Gibran pada Minggu (27/9), melalui media sosialnya dan sempat terhenti karena terkendala sinyal internet.

"Iya kadang-kadang kendala di sinyal internet, tapi ini sudah balik normal lagi. Ya biasalah, sinyal putus-putus. Nggak masalah,” kata Gibran.

Gibran berencana menambah jumlah virtual box – yang dilengkapi menjadi lima, tetapi dia enggan mengungkap biaya pembuatan kotak kampanye virtual itu. Beberapa kandidat kepala daerah di daerah luas dan wilayah-wilayah pegunungan yang minim akses listrik dan jaringan internet, memilih menggabungkan kampanye langsung dan daring.

Komisi Pemilihan Umum memperbolehkan para kandidat yang kesulitan melakukan kampanye daring karena kendala akses internet, untuk menggelar kampanye tatap muka. Syarat, kampanye tatap muka dilakukan secara terbatas dengan jumlah peserta maksimal 50 orang dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Iklan Politik

Dosen komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Erwan Sudiwijaya, mengatakan media sosial bisa menjadi alat kampanye Pilkada di masa pandemi. Namun, menurutnya empati dalam promosi konteks kampanye di Pilkada akan lebih 'masuk' ke pemilih daripada sekedar iklan politik.

Tim sukses, kata Erwan, harus lebih kreatif mengemas pesan-pesan mengenai situasi pandemic virus corona di masyarakat dengan kepentingan kandidat untuk mendapatkan citra dari calon pemilihnya.

“Misalnya, sekarang lagi pandemi Corona, pesan yang masuk mengangkat menjaga kesehatan, memberi solusi masalah perekonomian, dan sebagainya,” ujar Erwan, kepada VOA, Rabu (30/9). Erwan menambahkan perlu cara kreatif menyiasati model kampanye daring dalam pilkada di masa pandemi ini. Beberapa bentuk-bentuk kampanye digital yang bisa dijajal oleh para kandidat, misalnya, video tutorial pertanian urban (Urban Farming), game online, cara membuat film pendek atau animasi bernuansa humor, maupun menyelipkan ide-ide baru dalam kampanye di media sosial.

Selain cara-cara tadi, Erwan juga menyarankan para kandidat untuk menggunakan berbagai media untuk menjangkau para calon pemilih orang tua dan masyarakat di daerah tanpa akses internet.

"Gandeng media komunitas, radio atau media lokal di daerah, bisa menutup kekurangan atau keterbatasan jangkauan media sosial,” pungkas Erwan.

Sumber: VOA

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini