China Ikut Kesepakatan untuk Distribusikan Vaksin Covid ke Negara-Negara Berkembang

Publisher

Fasilitas pengemasan pembuat vaksin China, Sinovac Biotech, mengembangkan vaksin eksperimental Covid-19, di Beijing, China, 24 September 2020. (foto: VOA)

Suara Kalbar - China, Jumat (9/10) menyatakan bergabung dengan sebuah prakarsa internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendistribusikan vaksin Covid-19 untuk negara-negara berkembang.

China, Rusia dan AS sebelumnya telah menyatakan tidak akan bergabung dengan aliansi untuk membantu dua pertiga populasi dunia menerima vaksin itu pada 2022.

Perubahan sikap China ini membuatnya sebagai negara terbesar yang berpartisipasi dalam apa yang dikenal sebagai kesepakatan COVAX.

“Kami mengambil langkah konkret ini untuk memastikan distribusi vaksin yang merata, khususnya untuk negara-negara berkembang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying. Ia menyatakan berharap lebih banyak lagi negara yang mampu yang juga akan bergabung dan mendukung COVAX.

Lebih dari 36,5 juta orang telah terjangkit virus corona sewaktu wabah ini mulai menjalar ke berbagai penjuru dunia, berdasarkan statistik dari Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. AS, India dan Brazil memimpin dalam jumlah kasus dan kematian akibat Covid-19.

Kementerian kesehatan India melaporkan lebih dari 70 ribu kasus baru dalam periode 24 jam ini. AS mencatat lebih dari 7,6 juta kasus dan lebih dari 212 ribu kematian akibat virus corona. India mencatat hampir 7 juta kasus Covid-19 dengan lebih dari 106 ribu kematian, sedangkan Brazil mencatat lebih dari 5 juta kasus dan hampir 149 ribu kematian.

Ukraina melaporkan rekor 5.804 kasus baru pada hari Jumat. Pihak berwenang diperkirakan akan memperpanjang pemberlakuan PSBB di negara di Eropa Timur itu hingga akhir Oktober.

Australia, Jumat (9/10) menyatakan mengalami dua hari berturut-turut tanpa kematian akibat Covid-19, waktu terlama tanpa satupun kematian akibat Covid-19 dalam tiga bulan ini.

Berbagai institusi kesehatan di ibu kota AS, Washington, dan di negara bagian Maryland serta Virginia, hari Kamis (8/10) mengirim surat kepada individu-individu yang bekerja di Gedung Putih dalam dua pekan terakhir atau yang menghadiri acara 26 September di Rose Garden untuk menyambut calon Hakim Agung Amy Coney Barret. Mereka didesak untuk “menghubungi departemen kesehatan setempat mereka untuk pedoman atau pertanyaan lebih jauh terkait kemungkinan perlunya mereka dikarantina.”

Gedung Putih tampaknya telah menjadi sumber beberapa kasus Covid-19, termasuk tertularnya Presiden AS Donald Trump, beberapa legislator dan Rektor Notre Dame University. Foto-foto pada acara tersebut menunjukkan sebagian besar hadirin yang tidak bermasker juga tidak menjalankan protokol menjaga jarak. Mereka duduk bersebelah-sebelahan di kursi-kursi yang ditempatkan di halaman tersebut.

Sumber: VOA


Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini