Suami Pasien Tuding RSHB Mal Praktik, Pihak RSHB Bantah dan Tegaskan Sudah Sesuai Prosedur

Editor : Suhendra Yusri
Direktur RSHB dr Veridiana, Sp.OG (dua dari kanan) bersama Ketua Tim Kuasa Hukum RSHB, Daniel Tangkau, SH saat menggelar konferensi pers terkait bantahan mengenai tudingan mal praktik oleh pihak Suprapto, suami dari pasien Emi di Taman Rekreasi Teratai Indah Singkawang, Jumat (12/9/2020). 

Singkawang (Suara Kalbar)- Surapto (62), suami pasien Emi (52), menuding Rumah Sakit Umum Harapan Bersama (RSHB) melakukan mal praktik atau salah melakukan tindakan medis terhadap istrinya pada saat melakukan operasi penyakit yang diderita pasien pada Sabtu (11/4/2020) malam. 

 “Saat itu tekanan darah istri saya naik menjadi 230, dan dokter Sungkono tidak melakukan rawat inap, kemudian  hanya rawat jalan, saya berinsiatif pergi ke dokter Novi, disitu USG juga penyakitnya sama, miom, dikasih obat,” ujar Suprapto, Jumat (11/9/2020).

Setelah itu, kemudian Suprapto membawa ke dokter Dafis dan juga sama miom dan diberi obat. “Saya bawakan ke RSHB, awalnya nampak benar RS tidak profesional langsung perawatan dan dimasukkan ke ruangan,” katanya.

Suprapto menceritakan cukup lama istrinya belum mendapatkan perawatan sedangkan saat itu istrinya lagi mengalami kesakitan. “Dokternya mana, lalu dikatakan dokternya sudah pulang, kalau hari libur buat pengumuman di sana bahwa hari libur,” katanya.

Kemudian berdasarkan cerita Suprapto, dokter di RSHB datang pada sore harinya. “Jadi dokter bilang USG dulu, jam 9 malam istri saya sudah operasi, kita tandatangani begitu sudah masuk ruang operasi,” ujarnya.

Tidak berapa lama, Suprapto dipanggil dokter melalui seorang perawat untuk ke ruang operasi.
Hasil dari operasi kata Suprapto, dokter yang melakukan operasi mengatakan bahwa istrinya bukan mengalami penyakit miom tapi tumor ganas yang langsung dijahit kembali. “ Istri saya jadi kelinci percobaan, ini mal praktik,” katanya.

“Kita bicara rumah sakit bukan di luar rumah sakit, istri saya mengeluhkan bekas operasi,” paparnya.
Tidak berapa lama suami dari dokter yang melakukan operasi, kata Suprapto, meminta agar permasalahan ini dapat diselesaikan dari hati kehati.

Namun Suprapto menjadi kesal lantaran suami dokter yang melakukan operasi membawa pengacara ke kediamannya, dan dia merasa dibohongi.  Dia sempat ditawarkan santunan, namun ditolak Suprapto lantaran menyangkut nyawa istrinya. Suprapto menceritakan bahwa istrinya meninggal dunia pada Sabtu (27/6/ 2020).


Terkait dengan tudingan Suprapto, suami dari pasien Emi pihak Rumah Sakit Umum Harapan Bersama (RSUHB) Kota Singkawang membantah mal praktik atau salah melakukan tindakan medis terkait pernyataan keluarga pasien Suprapto (62), dimana istrinya Emi (52) mengalami dugaan mal praktik yang dilakukan dokter di RSHB .

“Saya hormati rekan-rekan dari pers saya dengan ini mengklrarifikasi dengan ringkasan nyonya EM dirawat di RSUHB dengan mengunakan fasilitas BPJS 9 April-15 April 2020,  karena nyeri kuat dan pendarahan perpaginam, kemudian dilakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien lantaran nyeri yang sangat kuat dan pendarahan di dalam  perut,” ujar Direktur RSHB, dr Veridiana, Sp.OG yang didampingi Tim Kuasa Hukum, Daniel Tangkau, SH saat konferensi pers di Restoran Taman Rekreasi Teratai Indah (TRTI), Jumat (11/9/2020).

Dia menjelaskan, kemudian pasien pulang dari RSHB dalam kondisi cukup baik dan bisa berjalan sendiri. “Pasien dirujuk ke Pontianak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari di Pontianak, saat di Pontianak pasien dinyatakan reaktif kemudian disolasi di RS pemerintah di Pontianak,” katanya.

Selesai diisolasi, kata Veridiana, kemudian pasien dibawa pulang ke Singkawang dan dirawat di salah satu RS swasta yang ada di Singkawang, pasien dibawa ke klinik tradisional Bengkayang, namun dua setengah bulan setelah dioperasi pasien meninggal dunia.

Veridiana menceritakan kronologisnya, saat itu pasien EM, datang dengan kondisi kesakitan kuat dan tidak mampu untuk berdiri, pada saat itu pasien membawa hasil USG yang mengarah diagnosas mioma, kemudian dilakukan USG ulang di RSHB dimana ada tumor di rahim yang bisa saja tumor jinak atau mioma atau tumor ganas.

“Dilakukan  pemeriksaan analogi panatomi, dilakukan operasi untuk mengatasi sumber nyeri dan apabila tumor tersebut tidak bisa diangkat,” jelasnya.

Sebelum dilakukan operasi, kata Veridiana, disetujui oleh pasien dengan menandatangani persetujuan dari suami pasien.

Veridiana mengatakan pada saat operasi ditemukan pendarahan pembuluh darah yang mengarah tumor ganas, kemudian pasien diberitahukan bahwa pendarahan sudah dapat diatasi, namun dicurigai ada tumor ganas.

“Maka bukan kompetensi saya mengangkat tumor tersebut dan itu harus dilakukan  dokter spesialis tumor kandungam untuk  penanganan yang lebih lengkap, kemudian operasi di perut ditutup, suami pasien setuju untuk dirujuk apabila kondisi sudah memungkinkan, dan setelah empat hari pasien bisa mandiri sendiri dan nyeri tidak kuat lagi hanya nyeri ringan saja,” jelasnya.

Ketika kondisi agak memungkinkan, pasien dirujuk ke rumah sakit di Pontianak, namun tidak dalam kondisi gawat darurat hanya konsul ke rumah sakit yang hanya rawat jalan saja ke ahli tumor kandungan.

“Pasien kemudian keluar dan berangkat sendiri ke rumah sakit pemerintah, pasien pergi ke rumah sakit swasta dan dilakukan rapid test, dan pasien dinyatakan reaktif dan kemudian pasien dirawat di ruang isolasi,” jelasnya.

Kemudian pasien kembali lagi ke Singkawang dan dirawat di RS swasta dan kemudian pasien keluar dari rumah sakitg dan dibawa ke klinik tradisonal di Bengkayang.

“Adalah tidak benar dikatakan pasien merupakan kelinci percobaan dan nyawa pasien melayang karena operasi,” tegasnya.

Daniel Tangkau, Tim Kuasa Hukum RSHB mengatakan telah terjadi pemberitaan yang dilakukan SP, suami pasien yang memberitakan secara luas tentang adanya mal praktik di RSHB.

“Kita melakukan klarisifikasi kami dari advokat yang dibicarakan SP akan kami analisa, dari hasil analisa tersebut ada hal-hal yang dapat menimbulkan pidana UU ITE, maka akan kami tuntut secara hukum karena selama ini pemberitaan sepihak baik di media sosial  atau online yang dilakukannya hanya sendiri,” ujarnya.

Danil mengatakan telah disampaikan SP, bahwa RSHB telah melakukan mal praktik terhadap istri SP. “Kami akan menelusuri, supaya ada keseimbangan pemberitaan dan tentu dia harus mengedepankan pemberitaan yang seimbang dan ada konfirmasi,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja, jelas Daniel Tangkaw, bahwa SP juga memasukan pernyataannya di youtube yang dinilai masuk UU ITE.

Terkait telah dilaporkannya ke pihak kepolisian, jelas Daniel, dipersilahkan saja namun dia minta SP mampu membuktikannya.”Kami tidak main-main sampai sekarang ini, dan perlu kita perhatikan kecuali dia minta maaf atas perbuatannya,” tegasnya.

“Kami dari tim pengacara, saya kenal dengan SP dan  saya kenal karena bertemu dua kali, jangan menyebutkan hal hal yang tidak sesuai aturan hukum yang berlaku, kasihan rumah sakit ini dianggap keliru satu pembetitaan dan satu laporan polisi, dan mudah-mudahan akan selesai dengan baik,” jelasnya.

Daniel Tangkau menjelaskan bahwa EM sudah dibawa keliling ke rumah sakit setelah keluar dari RSHB baik  rumah sakit swasta maupun pemerintah di Pontianak

“Masuk lagi di Singkawang  ke RS swasta keluar lagi berobat ke klinik herbal pada saat keluar RSHB pasien dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.

Menurut Daniel Tangkaw, bahwa pihak dokter tidak ada niat jelek dan akan berbuat baik. “Kami sudah ke rumah SP untuk bertemu dan mencari jalan terbaik dan persoalannya sudah dilaporkan ke polisi, betulkah ini mall praktek maka dipersilahkan urusan kepolisian, banyak komentar akhirnya akan membahayakan SP sendiri terhadap UU ITE,” katanya.

“Setelah saya cek di RSHB dia tidak mengeluarkan uang di pasien BPJS, dan yang dia katakan RS sering melakukan kesalahan  apa yang beredar di media online dan akun dia  perlu dibuktikan,” katanya.

Penulis : Tim Liputan

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini