Ritual Sembahyang Rampas di Mempawah Digelar dengan Protokol Kesehatan

Editor : Redaksi II
Kapolsek Mempawah Hilir, Iptu Marjuni, tampak berada di pintu masuk Kelenteng Tri Dharma Mempawah untuk memastikan warga yang hadir pada Sembahyang Rampas telah menerapkan protokol kesehatan | Suarakalbar: Dian Sastra.
Mempawah (Suara Kalbar)-Pelaksanaan Sembahyang Rampas di Kelenteng Yayasan Tri Dharma Mempawah dipastikan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan karena berkumpulnya warga.

Ketua Yayasan Tri Dharma Mempawah, Lim Hang Kim atau biasa disapa Pak Amak, mengatakan, sebelum menggelar ritual sembahyang rampas, pihaknya telah menggelar rapat pengurus untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 saat masyarakat berkumpul di kelenteng.

“Kita sepakat, semuanya harus menerapkan protokol kesehatan. Sebelum masuk kelenteng, wajib mengenakan masker, mencuci tangan dan nantinya diatur agar bisa menjaga jarak demi keselamatan bersama,” jelas Pak Amak.

Ia lantas mengapresiasi kehadiran Kapolsek Mempawah Hilir, Iptu Marjuni, beserta sejumlah anggota untuk membantu pengamanan pelaksanaan Sembahyang Rampas, termasuk upaya penerapan protokol kesehatan.

“Kami di Yayasan Tri Dharma Mempawah sangat mendukung aturan pemerintah agar disiplin protokol kesehatan. Dan kami telah menyampaikan imbauan kepada seluruh masyarakat Tionghoa agar patuh dengan aturan pemerintah,” jelasnya.

Hingga pukul 17.00 WIB, masyarakat Tionghoa Mempawah tampak sudah mulai tiba di Kelenteng Tri Dharma. Semuanya mengenakan masker dan tak ada yang berkerumun. Rencananya, Sembahyang Rampas akan digelar pukul 18.00 WIB.

Seperti diberitakan suarakalbar.co.id, setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek 2571 atau hari ini, Rabu (2/9/2020), masyarakat Tionghoa Mempawah menggelar Sembahyang Rampas atau Chiong Si Ku yang dipusatkan di Kelenteng Yayasan Tri Dharma Mempawah.

Ketua Yayasan Tri Dharma Mempawah, Lim Hang Kim atau disapa pak Amak, mengatakan, sembahyang rampas merupakan puncak dari ritual sembahyang kubur yang dilaksanakan tiap tahun oleh masyarakat Tionghoa secara turun temurun.

Bahkan sejak 400 tahun lalu, tambah Pak Amak, masyarakat Tionghoa Mempawah menggelar sembahyang rampas sebagai sarana ritual untuk memanggil dan mengantar arwah kembali ke nirwana.

Penulis : Dian Sastra
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini