Dinkes Tak Mau Kirimkan 200 Sampel Swab Per-minggu, Harisson : Bagus Mundur Jak!

Editor : Redaksi

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat

Pontianak
(Suara Kalbar) - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat kembali mengumumkan jumlah sampel Swab yang dikirimkan ke Dinkes Provinsi pada bulan September.

Berdasarkan data,Kota Pontianak pada bulan September mengirimkan 4902 sampel Swab, kemudian Kabupaten Kubu Raya 1455 sampel Swab,Kabupaten Mempawah 1518 sampel Swab.

Selanjutnya ada Kota Singkawang yang mengirimkan 502 sampel Swab,Kabupaten Sambas 890 sampel Swab,Kabupaten Bengkayang 519 sampel Swab,Kabupaten Landak 1674 sampel Swab.

Kemudian Kabupetan Sanggau pada bulan September mengirim 269 sampel Swab,Kabupaten Sekadau 219 sampel Swab,Kabupaten Sintang 1670,Kabupaten Melawi 108 sampel Swab,Kabupaten Kapuas Hulu mengirimkan 130 sampel Swab,lalu ada Kabupaten Ketapang dengan 109 sampel Swab serta Kabupaten Kayong Utara yang hanya mengirimkan 29 sampel Swab selama bulan September ke Dinkes Provinsi Kalbar.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Harisson dibuat geram dengan kinerja Dinas Kesehatan Kayong Utara yang hanya mengirimkan 26 sampel Swab saja selama bulan September.

“Kayong tuh ngeyel, kalo memang berat 200, harusnya 126 sampel per minggu. Standar WHO dan Kemkes 1 sampel per 1.000 penduduk per minggu. Jadi kayong harus nya 126 sampel per minggu. Coba lihat data kayong berapa mereka kirim sampel per minggu?,” tuturnya ,Selasa (29/9/2020).


Dijelaskannya pula ,seharusnya Kabupaten Kayong Utara melakukan pengambilan Swab sebanyak 21 sampel.

“Kayong itu 126 sampel per minggu. Jadi 1 hari harus nya  21 sampel.Kalau dibagi lagi per puskesmas,misalnya puskemas nya 10 kan berarti 1 puskesmas 2 sampel per hari. Masak tidak dapat?.

Belum lagi pasien yang gejala Influenza Like Ilnes (ILI) yang berkunjung ke RS Kabupaten nya,kan dapat banyak seharusnya. Orang demam batuk pilek harus nya di swabs, masak diseluruh Kayong sehari gak ada 21 orang yang batuk pilek yang berobat ke Puskesmas atau RS ?,” terang Harisson.


Bagi Kepala Dinas Kesehatan yang tidak mau melaksanakan Peraturan Gubernur yang mewajibkan daerah mengirimkan 200 sampel Swab ke Dinkes Provinsi per minggunya, Harisson meminta untuk dapat mundur dari jabatan agar tidak membahayakan keselamatan masyarakat didaerah tersebut.

“Kepala Dinas Kesehatan yang tidak mau melaksanakan testing 200 per minggu atau sesuai proporsi jumlah penduduk sesuai standar WHO bagus mundur jak, dari pada membahayakan keselamatan warga di daerah nya,” tutupnya.

 

Penulis: Yapi Ramadhan

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini